Hidayatullah.com–Militer Amerika akan diperkenankan membayar pejuang Taliban yang tidak lagi menggunakan tindak kekerasan untuk melawan pemerintah Afghanistan.
Ketentuan ini dicantumkan dalam legislasi yang akan ditandatangani oleh Presiden Barack Obama, baru-bari ini.
Pembayaran imbalan ini sudah pernah dilakukan oleh para panglima Amerika di Iraq untuk membujuk pemberontak agar membelot ke pihak mereka, tapi ini kali pertama taktik ini resmi diberlakukan di Afghanistan.
Program Tanggap Darurat Panglima, CERP, dibentuk untuk memberi militer Amerika Serikat sarana untuk untuk membuka jalan, menggali sumur, dan memberikan bantuan kemanusiaan lain yang bersifat mendesak ke warga Iraq dan Afghanistan.
Namun, di Iraq, dana itu juga bisa disalurkan kepada pejuang, asal mereka mau membelot. Pendukung skema CERP menyatakan, taktik ini memungkinkan sekitar 90 ribu warga Iraq yang sebelummya bersikap bermusuhan membentuk milisi lokal dan melindungi daerah dari militan.
Skema ini dianggap ikut mengurangi tingkat tindak kekerasan di Iraq.
Salah satu Klausul dalam RUU undang-undang anggara belanja pertahanan tahunan menyatakan, mereka boleh menggunakan dana tersebut untuk mendukung “reintegrasi ke masyarakat Afghanistan” orang-orang yang meninggalkan tindak kekerasan untuk melawan pemerintah “boneka” AS.
Total 1, 3 miliar dollar AS telah dianggarkan untuk belanja tersebut, meski belum ada besaran ditetapkan untuk pos program reintegrasi.
Ketua Komite Angkatan Bersenjata pada Senat Amerika, Senator Carl Levin mengatakan, dia menghendaki dana itu dipergunakan untuk membayar para mantan pejuang taliban untuk melindungi warga masyarakat mereka. Masalahnya, bisakah program ini bisa berjalan sukses diterapkan pada Taliban yang dikenal sangat bersemangat “memburu” tentara AS? [bbc/hidayatullah.com]
foto: kendaraan tentara AS dibom Taliban