Hidayatullah.com–Sabeel, organisasi oikumenis Kristen yang mengusung gerakan liberasi keagamaan, mengelar sebuah pertemuan mulai 29 Oktober – 6 Nopember 2009. Acara yang diselenggarakan untuk mengundang orang dari seluruh dunia melihat keadaan kehidupan yang sebenarnya di wilayah konflik Palestina itu, juga mengagendakan pertemuan antara Muslim dan Kristen di kota Beit Sahour dekat Bethlehem, guna membahas masalah Zionisme Kristen. Sebuah masalah yang memprihatikan banyak rakyat Palestina, termasuk Kristen Palestina.
Mungkin khawatir dengan imbas meningkatnya kekerasan Yahudi terhadap Muslim Palestina–khususnya Yerusalem–beberapa waktu belakangan ini, Sabeel mengatakan bahwa pertemuan itu diselenggarakan untuk menghilangkan kecurigaan dan membangun saling pengertian.
Menurut Sabeel, mengembalikan kedamaian di Timur Tengah merupakan sebuah perkara penting, dan anggota mereka serta para pendukung perdamaian akan mempertahankan Haram Al Sharif dan Masjid Al Aqsa di Yerusalem.
Perkumpulan itu itu mengatakan bahwa kelompok-kelompok fundamentalis Israel terus melakukan aksi kekerasan dengan memasuki daerah-daerah terlarang dan tempat suci orang Islam, sehingga menyebabkan bentrokan di Kota Tua Yerusalem.
Organisasi yang didirikan oleh pendeta Gereja Anglikan Palestina Naim Ateek itu berpendapat, bahwa kekerasan tersebut, serta langkah provokatif Israel seperti penghancuran rumah dan pengusiran warga Palestina, merupakan masalah yang menambah ketegangan di Yerusalem dan Tepi Barat. [di/im/hidayatullah.com]