Hidayatullah.com–Kerusuhan marak di parlemen Ukraina saat pembahasan tentang perpanjangan masa sewa pangkalan AL Rusia di negara itu.
Ketua parlemen sampai harus berlindung di balik payung karena dilempari telur, sementara bom asap dilemparkan dan para politisi baku hantam.
Anggota parlemen dari kubu oposisi melempari ketua parlemen, Volodymyr Lytvyn, dengan telur dan dua stafnya melindungi dia dengan payung.
Sementara di luar gedung berlangsung unjuk rasa oleh ribuan orang.
Namun perdebatan bisa juga dilanjutkan dengan keputusan akhir mensahkan perpanjangan masa sewa Sevastopol selama 25 tahun.
Sebagai imbalannya adalah pasokan gas Rusia yang lebih murah.
Perpanjangan masa sewa ini dicapai di tengah-tengah membaiknya hubungan antara Rusia dan Ukraina setelah terpilihnya presiden pro Rusia, Viktor Yanukovych, pada bulan Februari.
Kubu yang pro Barat menentang keras pangkalan AL Rusia di negara itu.
Kesepakatan yang menjadi pembahasan di parlemen ini, disetujui pekan lalu oleh Presiden Yanukovych dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev.
Anggaran itu berarti bisa dicapai kesepakatan dengan IMF, dan kemungkinan mendapat investasi.
Parlemen akhirnya memutuskan untuk meratifikasi perpanjangan masa sewa Sevastopol dengan didukung oleh 236 dari 450 anggota parlemen.
Perdana Menteri Mykola Azarov menyebutkan harga gas yang rendah dari Rusia akan membantu anggaran mereka ditengah-tengah upaya Ukraina untuk mendapat pinjaman lunak dari Dana Moneter Internasionl, IMF.
“Anggaran itu berarti bisa dicapai kesepakatan dengan IMF, dan kemungkinan mendapat investasi,” kata Azarov.
“Ini program pembangunan bagi Ukraina untuk masa depan,” tambahnya.
Namun pemimpin kubu oposisi, Yulia Tymoshenko, mengatakan hari ini akan menjadi “halaman hitam dalam sejarah Ukraina dan parlemen Ukraina.”
Sementara itu majelis rendah parlemen Rusia langsung mengesahkan perpanjangan itu, tak lama setelah ratifikasi yang ditempuh oleh Ukraina.
Subsidi Rusia
Hari Senin (26/04) Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin mengunjungi Kiev dan mengumumkan tawaran kerjasama yang meluas, antara lain produksi pesawat terbang, pembangunan galangan kapal, dan pembangkit listrik tenaga nuklir.
“Kami membicarakan pembentukan usaha besar yang akan membawa masa pembangkit tenaga listrik bersama, pembangunan pembangkit listrik bersama dan siklus energi,” kata Putin.
Harga gas yang diminta Ukraina, menurut Putin, sebenarnya amat murah dan subsidi gas itu membuat Rusia harus menyediakan anggaran US$ 40 – 45 miliar dalam waktu 10 tahun mendatang.
“Namun ini bukan hanya sekedar uang,” tambahnya.
“Kerja sama militer, tidak diragukan lagi, akan meningkatkan kepercayaan antara kedua negara dan memberi kesempatan untuk bekerja dengan kepercayaan dalam bidang ekonomi, sosial, dan politik,” tuturnya.
Salah seorang pengunjuk rasa di luar gedung parlemen, Igor Derevyanko, menuduh Rusia mendanai proyek-proyek anti Ukraina.
Pemimpin kubu oposisi, Yulia Tymoshenko, mengatakan hari ini akan menjadi “halaman hitam dalam sejarah Ukraina dan parlemen Ukraina.” [bbc/hidayatullah.com]