Hidayatullah.com–Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu menyebut Amerika Serikat mudah untuk dibohongi, ketika mendiskusikan bagaimana cara untuk melucuti perjanjian Oslo. Pernyataan Netanyahu itu terekam dalam sebuah video yang diungkap baru-baru ini.
Televisi Israel Channel 10 menayangkan video pertemuan Netanyahu dengan pemukim Yahudi di Tepi Barat tahun 2001, yang direkam tanpa sepengetahuan Netanyahu, pada Jumat (16/7) malam lalu.
Dalam salah satu bagian, Netanyahu mengancam Otorita Palestna dengan serangan yang luas.
“Pokoknya pertama-tama adalah memukul mereka. Tidak hanya dengan satu pukulan, tapi dengan pukulan-pukulan yang sangat menyakitkan dan harganya sangat berat untuk dipikul,” kata Netanyahu kepada para pemukim yang anggota keluarganya mati dalam serangan Palestina.
Ketika itu Intifada Kedua baru saja pecah dan ketegangan Palestina-Israel sedang meningkat. Ariel Sharon yang saat itu menjabat Perdana Menteri mengirimkan pasukan ke Tepi Barat.
Dalam rekaman tersebut, Netanyahu yang pada saat itu tidak memiliki jabatan politik, mengatakan bahwa Amerika Serikat gampang dikadali.
“Saya tahu seperti apa Amerika itu. Amerika adalah sesuatu yang bisa digerakkan dengan sangat mudah, disetir ke arah yang benar. Mereka tidak akan ke mana-mana,” kata Bibi–panggilan akrab Netanyahu.
Bibi juga bicara banyak tentang bagaimana mengakali Perjanjian Oslo, yang ditandatangani tahun 1993 sebagai kerangka negosiasi Palestina-Israel masa depan.
Secara khusus dalam Perjanjian Oslo disebutkan bahwa Israel boleh memiliki zona militer di Tepi Barat dalam perjanjian apapun di masa datang dengan Otorita Palestina.
Kepada para pemukim itu Netanyahu mengatakan bahwa ia akan menggunakan celah itu untuk mencaplok sebagian besar wilayah Palestina.
Ia menegaskan, akan menginterpretasikan perjanjian tersebut sedemikian rupa hingga perbatasan Israel bisa melampaui apa yang telah ditetapkan pada tahun 1967.
“Bagaimana kita melakukannya? Tidak ada seorang pun yang mengatakan apa zona militer itu. Zona militer adalah zona aman. Sepanjang yang saya tahu, seluruh Lembah Yordan adalah zona militer,” katanya sebagaimana dilansir Al-Jazeera (18/7).
Dalam rekaman itu, Netanyahu menggambarkan Bill Clinton–yang ikut merundingkan Perjanjian Oslo–sebagai seorang “Pro-Palestina radikal.” [di/jzr/hidayatullah.com]