Hidayatullah.com–Kasus-kasus pelecehan di kalangan gereja sering terjadi. Radio Nederlan, mencatat beberapa Kardinal yang tercemar;
Irlandia:
Tahun 2009 Kardinal Seán Brady dikritik ketika terungkap bahwa ia selama bertahun-tahun tahu mengenai berbagai kasus pelecehan seksual dalam gereja katolik Roma di Irlandia. Brady turut serta menyembunyikan skandal tersebut. Kardinal menolak turun dan hanya meminta maaf pada korban serta berjanji akan bekerjasama dengan kehakiman. Bersama dengan sejumlah uskup Irlandia, Bready dipanggil oleh paus, yang menyebut tentang ‘ kegagalan otoritas gereja Irlandia selama bertahun-tahun’. Vatikan membuka penyelidikan mengenai pelecehan di Irlandia.
Belgia:
Kardinal Godfried Danneels menjadi buah bibir pada tahun 2010 karena dilaporkan tahu mengenai skandal seputar uskup Brugge Roger Vangheluwe yang selama bertahun-tahun menyalahgunakan keponakannya sendiri. Danneels terus membantah bahwa ia tahu menahu mengenai hal itu. Agustus 2010, muncul potongan rekaman suara yang menunjukkan Danneels berupaya menjaga kasus tersebut dari publisitas. Saat ini masih berlangsung penyelidikan resmi terhadap cara kerja Danneels.
Amerika Serikat:
Kardinal Bernard Francis Law menjadi fokus perhatian dalam skandal pelecehan seksual di keuskupan Boston. Para pastor di Boston melakukan pelecahan seksual terhadap ratusan anak-anak. Law tahu tapi secara sistematis berupaya mengubur skandal pelecahan itu. Akhir tahun 2002, Law mundur sebagai uskup agung Boston. Ia tetap menjadi kardinal dan dipindah ke Roma.
Austria:
Kardinal Hans Wilhelm Groër adalah uskup agung Wina dan pada tahun 1995 ia digugat oleh berbagai mantan muridnya karena pelecehan seksual. Ia kemudian mundur sebagai uskup agung pada tahun itu juga. Tahun 1998, ia dipaksa oleh paus untuk menghentian segala kegiatan gereja. Groër kemudian minta dimaafkan tapi mengaku tidak bersalah. Ia meninggal tahun 2003. *
Foto: Kardinal Godfried Danneels