Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Pria yang Disebut Obama Diplomat AS, Ternyata Agen CIA

Dija
Terakhir diupdate:
Dija
Dipublikasikan 22 Februari 2011 12:35
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Seorang warga Amerika Serikat yang menembak mati dua pria di Lahore, sehingga menimbulkan krisis diplomatik antara Pakistan dan AS, ternyata adalah seorang agen mata-mata CIA yang sedang menjalankan tugas.

Identitas siapa sebenarnya Raymond Davis dipertanyakan banyak pihak, sejak dia menembakkan peluru dari pistol Glock ke arah dua pria yang berhenti di depan kendaraannya di sebuah lampu merah pada 25 Januari lalu.

Pihak berwenang Pakistan mendakwanya dengan tuduhan pembunuhan, namun pemerintah Obama bersikeras mengatakan bahwa Davis adalah “pejabat administrasi dan teknis” yang ditempatkan di Konsulat AS sehingga memiliki kekebalan diplomatik.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan di AS dan Lahore, Guardian bisa memastikan bahwa pria Amerika berusia 36 tahun itu merupakan seorang mantan tentara pasukan khusus yang diperkerjakan agen intelijen AS, CIA.

“Tidak diragukan lagi, ” ujar seorang pejabat intelijen Pakistan, sebagaimana dilansir Guardian Senin (21/2).

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Terungkapnya identitas Davies yang sebenarnya mungkin akan mempersulit upaya Amerika untuk membebaskan warganya itu, yang bersikukuh mengatakan bahwa dia hanya berusaha membela diri melawan dua orang tersangka perampok yang membawa senjata.

Jaksa penuntut Pakistan menuding tindakan Davis sangat berlebihan, karena dia menembakkan 10 peluru dan bahkan keluar dari mobilnya untuk menembak dua kali ke arah punggung seorang korban yang berusaha menyelamatkan diri. Korban itu ditemukan tergeletak 30 kaki dari sepeda motornya.

“Sangat jauh dari apa yang kita definisikan sebagai pembelaan diri. Tindakan itu tidak sepadan dengan ancaman,” kata seorang pejabat polisi senior yang turut menangani kasus tersebut kepada Guardian.

Pemerintah Pakistan sebenarnya tahu status Davis sebagai agen CIA, tapi tetap diam menghadapi tekanan kuat AS yang menuntut untuk membebaskan pria itu berdasarkan Konvensi Wina.

Pekan lalu Presiden Barrack Obama menggambarkan Davis sebagai “diplomat kami” dan mengirim kepala diplomatik pemecah masalahnya, Senator John Kerry, ke Islamabad. Tapi Kerry pulang dengan tangan hampa.

Banyak orang Pakistan marah melihat aksi Amerika Serikat mengobrak-abrik kota terbesar kedua di negara mereka itu. Para analis memperingatkan akan terjadi protes seperti di Mesir jika Davis dibebaskan. Pemerintah yang takut akan mendapat serangan balasan, mengatakan bahwa mereka perlu menunggu hinga 14 Maret untuk memutuskan apakah Davis akan menikmati kekebalan diplomatik.

Orang ketiga yang merupakan korban dalam peristiwa tersebut ditabrak oleh sebuah kendaraan milik Amerika yang melaju untuk membantu Davis. Para pejabat Pakistan yakin, penumpang kendaraan itu adalah anggota CIA, karena datang dari rumah tempat tinggal Davis dan membawa senjata.

Pihak AS menolak permintaan Pakistan untuk menginterogasi kedua pengendara mobil tersebut.

Pada hari Ahad (20/2) seorang pejabat senior intelijen Pakistan mengatakan, kedua pria itu telah meningkalkan Pakistan. “Mereka sudah terbang pulang ke kandang, mereka sudah berada di Amerika,” katanya.

ABC News melaporkan, kedua laki-laki warga AS itu memiliki visa diplomatik seperti Davis. Tidak biasanya bagi para agen intelijen AS–seperti halnya mata-mata lain dari seluruh dunia–untuk membawa paspor diplomatik.

Pihak AS menuding Pakistan menahan Davis secara ilegal dan melanggar hukum internasional. Para politisi Washington yang marah, mengancam akan memangkas bantuan tahunan untuk Islamabad senilai 1,5 milyar dolar.

Davis pernah bertugas di pasukan khusus militer AS selama 10 tahun sebelum berhenti pada tahun 2003 dan menjadi kontraktor jasa keamanan. Seorang pejabat senior Pakistan yakin Davis pernah bekerja untuk Xe, atau yang dulu dikenal sebagai Blackwater.

Kecurigaan pihak berwenang Pakistan atas peran Davis bukan tanpa alasan. Mereka menemukan beraneka macam perlengkapan di dalam mobilnya, antara lain sebuah pistol tanpa izin, radio komunikasi jarak jauh, GPS, senter infra merah dan kamera yang berisi foto gedung-gedung di Lahore.

“Ini bukan pekerjaan diplomat. Dia sedang melakukan aksi mata-mata dan pengintaian,” kata Menteri Hukum Punjab, Rana Sanaullah. Dia juga mengatakan bahwa dirinya telah mendapat “konfirmasi” bahwa Davis adalah pegawai CIA.

Guardian
melaporkan (21/2), sejumlah media AS sudah mengetahui peran Davis di CIA, namun merahasiakannya atas permintaan pemerintah Obama. Stasun televisi 9NEWS di Colorado mewawancarai istri Davis. Dan wanita itu menjawab pertanyaan penanya dengan menyebut sejumlah referensi yang ternyata adalah CIA. Stasiun televisi itu lalu menghilangkan referensi CIA dalam laporan di situs internetnya atas permintaan pemerintah AS.

Sejumlah laporan yang mengutip para pejabat intelijen Pakistan menyebutkan, bahwa orang yang dibunuh Davis, yaitu Faizan Haider (21) dan Muhammad Faheem (19) adalah anggota agen mata-mata Pakistan, ISI (Inter-Services Intelligence), yang diperintahkan untuk memantau gerak-gerik Davis karena telah melanggar “garis merah”.

Seorang pejabat senior ISI  menyangkal bahwa kedua orang Pakistan yang tewas itu anggota mereka. Namun dia mengakui bahwa hubungan ISI dengan CIA buruk. “Kami adalah negara berdaulat, dan jika mereka ingin bekerjasama dengan kami, maka mereka harus membangun sebuah hubungan saling percaya berdasar pada persamaan. Bukan dengan bersikap arogan dan menuntut,” katanya sebagaimana dikutip Guardian.

Ketegangan antara kedua badan intelijen memang sedang memanas. Pada bulan Desember lalu, kepala CIA di Islamabad dipaksa angkat kaki. ISI marah karena pemimpinnya, Jenderal Shuja Pasha dimasukkan sebagai terdakwa di New York terkait peristiwa Mumbai 2008.

Saat ini Raymond Davis mendekam di penjara Kot Lakhpat di kota Lahore. Pihak Pakistan mengatakan mereka memberlakukan pengamanan ekstra pada Davis untuk menjaga keselamatannya, termasuk menerjunkan pasukan paramiliter Punjab Rangers. Menurut Sanaullah, Davis berada di “zona pengamanan tingkat tinggi” dan mendapatkan kiriman makanan dari para pengunjungnya yang berasal dari Konsulat Amerika Serikat.* 

foto: ITN Live

Redaktur: Dija
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Membiasakan Salam, Memperkuat Barisan
Tulisan selanjutnya Situasi Libya Makin Tak Terkendali

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Berita
3 Juni 2026 12:30
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?