Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Yahudi Ortodoks dan Sekuler Ribut Soal Wajib Militer

Ama Farah
Terakhir diupdate:
Ama Farah
Dipublikasikan 2 Maret 2012 06:38
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Partai-partai ultra-Ortodoks dalam pemerintahan Israel mengatakan bahwa mereka akan menentang peraturan baru apapun yang mengharuskan para pengikut Yahudi ultra-Ortodoks masuk wajib militer.

Pekan lalu, Mahkamah Agung Israel mencabut sebuah undang-undang yang telah membebaskan puluhan ribu penganut Yahudi ultra-Ortodoks dari keharusan mengikuti wajib militer dengan cara belajar di sekolah-sekolah agama. Keistimewaan yang diberikan peraturan hukum itu menjadikan anggota-angota keluarga Yahudi Ortodoks kemudian hidup dalam tanggungan negara, akibat para pria mereka menjadi pelajar seumur hidup. Hal tersebut menimbulkan kemarahan meluas dalam masyarakat Zionis Israel yang mayoritas sekuler.

Penolakan kelompok Ortodoks di pemerintahan untuk menyetujui peraturan wajib militer bagi pengikut mereka, membuat Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pusing tujuh keliling, sebab pemerintahan yang dibentuknya sekarang merupakan hasil koalisi dengan dua partai Yahudi Ortodoks. 

Netanyahu telah berjanji kepada rakyat Israel untuk mengganti peraturan yang dikenal dengan Hukum Tal itu dengan undang-undang yang lebih “adil dan merata”. Jika sampai 31 Juli 2012 –saat masa berlaku Hukum Tal habis– belum ada peraturan penggantinya, maka kemungkinan kewajiban militer secara menyeluruh akan diberlakukan.

Dalam kesempatan yang langka, lansir Associated Press, kelompok ultra-Ortodoks hari Ahad (26/02/2012) mengadakan pertemuan dan bersatu menentang perubahan peraturan yang mengakibatkan pengikut mereka terkena wajib militer. Semua pria warga Israel diharuskan menjalani wajib militer selama 3 tahun ketika usia mereka sudah memasuki 18 tahun.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Para pemimpin Yahudi ultra-Ortodoks berkeyakinan, pengikut mereka harus menghabiskan waktunya untuk mempelajari kitab suci mereka.

“Kami tidak akan ada tanpa Torah,” kata anggota parlemen dari Partai Yudaisme Torah Bersatu, Moshe Gafni, dikutip Haaretz. Gafni berdalil dengan salah satu isi Torah yang menyebutkan, “Kami akan memberikan hidup kami untuknya (Torah).”

Menteri Luar Negeri Avigdor Lieberman, yang berasal dari partai sekuler Yisrael Beitenu, hari Selasa (29/02/2012), mengatakan bahwa ia tidak akan menyetujui perpanjangan masa berlaku Hukum Tal.

“Tidak meskipun sehari, bahkan tidak walau satu jam saja,” tegas Lieberman.

Meskipun masyarakat senang mendengar kabar wajib militer akan dikenai kepada seluruh pria warga Israel secara merata, namun pada kenyataannya pemberlakuan wajib militer menyeluruh tidak akan mudah dilaksanakan.

Enam puluh tahun lalu, saat Hukum Tal baru diterapkan, jumlah pengikut Yahudi ultra-Ortodoks yang berlindung dari wajib militer sekitar 400 orang. Kini, jumlah mereka sudah menggelembung hingga puluhan ribu orang. Menyerap begitu banyak pria masuk dalam wajib militer dalam waktu singkat, tidak mungkin dilakukan oleh angkatan bersenjata Israel. Terlebih, para pria Yahudi ultra-Ortodoks itu sedikit sekali memiliki keterampilan di dunia sekuler, yang tentunya menjadi beban tersendiri bagi militer.

Meskipun wajib militer besar-besaran kelihatannya mustahil, namun bagi Yohanes Plasner peraturan baru pengganti Hukum Tal harus diberlakukan. Jika belum ada penggantinya sampai 31 Juli mendatang, maka wajib militer menyeluruh akan diterapkan.

“Itu bukan masalah realistik atau praktis,” kata anggota parlemen yang ikut membahas ketentuan wajib militer itu.

“Militer tidak siap untuk itu … sebuah kesepakatan lain harus dibuat,” kata Plesner, anggota partai oposisi Kadima.

Dia bersumpah, “Tidak boleh ada lagi Hukum Tal jilid 2.”*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Polisi Saudi Cegah Maksiat Sebelum Terjadi Lewat Video
Tulisan selanjutnya UU Perkawinan Tahun 1974 Di Bawah Ancaman?

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

Berita
17 Juli 2026 14:04
SPI Himpun Lembaga Dakwah Perkuat Bela Palestina
Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
Pembelian Minyak Iran oleh China Sudah Berkurang, Kata Menteri Keuangan Amerika Serikat
Prancis Jadi Negara Uni Eropa Pertama yang Melarang Akses Media Sosial Bagi Anak-anak

Terbaru

  • Buya Natsir dan 1.000 Sarung untuk Tapol PKI
  • Prancis Jadi Negara Uni Eropa Pertama yang Melarang Akses Media Sosial Bagi Anak-anak
  • PM Andy Burnham Izinkan Pangkalan Militer Inggris Dipakai Amerika untuk Menyerang Iran
  • Perang Amerika Serikat atas Iran Sejauh Ini Menelan Biaya $37,5 Miliar Kata Pentagon
  • Belanda Resmi Larang Impor dari Permukiman Ilegal ‘Israel’ Mulai September
  • MUI: KUII VIII Jadi Forum Dialog Umat dan Negara, Bahas Hukuman Mati Koruptor hingga Tata Kelola Tambang
  • ‘Israel’ Larang Masuk Siapa Pun yang Menyebutnya Negara Apartheid
  • MUI Akan Surati Presiden dan Kapolri Terkait Penangkapan Warga Negara Palestina
  • MUI Bersama 87 Organisasi Islam Sudah Siap Gelar KUII ke-VIII, Bahas Berbagai Isu Nasional dan Global
  • Pembelian Minyak Iran oleh China Sudah Berkurang, Kata Menteri Keuangan Amerika Serikat

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?