Hidayatullah.com—Dua tahun lalu, tepatnya November 20120, Maplecroft, sebuah organisasi penasehat resiko global berbasis di Inggris mengumumkan Somalia menjadi Negara berbahaya menyusul Afghanistan, Iraq dan Pakistan dengan ‘tuduhan” negara yang menghadapi resiko tertinggi terorisme.
Organisasi yang pekerjaannyamenyediakan konsultasi bisnis global itu memberi peringkat kepada 196 negara dalam kategori terorisme dari resiko ekstrim hingga resiko rendah. Dan ia, menempatkan Somalia di bagian teratas dalam daftar itu, diikuti oleh Pakistan, Iraq, Afghanistan dan wilayah Palestina.
Sebulan sebelumnya, negara adidaya Amerika juga seperti sibuk memikirkan permasalahan di Somalia. AS mengklaim ingin memperkuat hubungan dengan Somaliland dan Puntland, dua wilayah yang memisahkan diri dengan Somalia dan memiliki otoritas penuh mengurus wilayahnya.
AS berdalih ingin menyelamatkan kedua tempat tersebut dari para “militan” Islam.
Mengapa Negara-negara Barat seolah begitu baik hati memikirkan Negara miskin yang pernah Somalia telah juluki peringkat 1 “Failed State Index” di Tanduk Afrika ini?
“Bantuan kemanusiaan”
Minggu lalu, media Inggris memberitakan motif pemerintah London menawarkan bantuan kemanusiaan dan keamanan terhadap Somalia demi menguasai industri minyak negara Afrika itu.The Guardian mengungkapkan keterlibatan Inggris dalam proyek minyak Somalia.
Seperti diketahui, Somalia, bekas jajahan Inggris, menderita konflik puluhan tahun dan dikenal sebagai sarang pembajakan yang mengganggu pelayaran internasional di Samudera Hindia.
Pada awal Februari lalu, William Hague melakukan kunjungan mendadak ke Somalia, dan menjadi menteri luar negeri Inggris pertama yang mengunjungi Mogadishu dalam dua dekade terakhir.
Pekan lalu, Perdana Menteri Inggris David Cameron menjadi tuan rumah konferensi internasional mengenai Somalia, di mana ia menjanjikan bantuan lebih besar untuk memerangi terorisme di negara Afrika itu.
Laporan Guardian mengungkapkan puncak pembicaraan antara pejabat Inggris dan Somalia mengenai eksploitasi cadangan minyak yang masih utuh di wilayah yang rawan konflik itu.
Para ekonom menilai keterlibatan London dalam industri minyak Somalia bisa menopang ekonomi Inggris yang sedang melemah, dan kini terpaksa menempuh langkah-langkah penghematan untuk menghindari defisit anggaran.
Inggris semakin agresif mengincar sumber daya alam Somalia, sementara perusahaan minyak Afrika-Kanada mulai mengeksplorasi minyak di Puntland pada bulan Januari, yang merupakan pengeboran pertama di Somalia selama 21 tahun. Perusahaan Cina dan AS juga dilaporkan mengincar industri potensial di Somalia itu.
Pemerintah London melakukan berbagai cara untuk membendung krisis ekonomi zona Euro yang mulai menjalar ke negara ini. Data resmi yang dikeluarkan Jumat (24/02/2012) melaporkan prediksi memburuknya pertumbuhan ekonomi tahun 2012 yang secara keseluruhan lebih rendah dari yang perkiraan sebelumnya. Dilaporkan, perekonomian Inggris menyusut pada kuartal terakhir tahun 2011.
Kantor Statistik Nasional (ONS) mengumumkan terjadinya kontraksi sebesar 0,2 persen dalam tiga bulan terakhir tahun lalu, sejalan dengan perkiraan sebelumnya, terutama disebabkan oleh merosotnya investasi bisnis.
Menurut ONS, Investasi bisnis turun 5,6 persen pada kuartal keempat dibandingkan dengan kuartal ketiga, turun £1,7 miliar atau setara dengan $2,68 miliar menjadi £28,7 miliar. Output manufaktur dan konstruksi menyusut, sementara sektor jasa dominan datar.
Sebelumnya, Institute for Public Policy Research (IPPR) melaporkan bahwa krisis di zona euro dan melemahnya kepercayaan konsumen beresiko membawa Inggris ke dalam resesi baru. Pakar ekonomi IPPR Tony Dolphin menilai krisis yang dialami zona euro belum berhasil dituntaskan dan semakin banyak negara yang terpaksa menerapkan kebijakan penghematan yang berakibat fatal.
Pemerintah Inggris mengumumkan pemangkasan anggaran senilai 81 miliar poundsterling selama lima tahun untuk mengatasi defisit anggaran yang membengkak.
Rebutan Barat
Inggris bukan satu-satunya negara yang ingin “menguasai” sumber daya alam yang luas di Somalia. Bulan terakhir ini, sebuah eksplorasi minyak mulai beraktivitas di Puntland oleh perusahaan Kanada, pengeboran pertama di Somalia selama 21 tahun. Hashi, yang menyegel transaksi minyak Afrika, mengatakan, minyak pertama diharapkan digali dalam 20 sampai 30 hari mendatang.
Somalia adalah negeri konflik, di mana kemiskinan paling buruk sedang melanda. Komite Unit Bencana Inggris DEC pernah mengatakan, distribusi bantuan ke Somalia merupakan paling sulit di dunia. Sebab, keamanan di negara yang tidak memiliki pemerintah nasional selama 20 tahun.
Barat, termasuk Inggris salah satu di antara negeri yang paling nyaring “memerangi” terorisme. Menteri Andrew Mitchell, pernah mengatakan, Somalia sarang terorisme dan “ancaman yang sangat langsung bagi keamanan Inggris.”
Namun di sisi lain, Inggris memamerkan wajah iba, dengan mengumumkan tawaran paket bantuan, di negeri yang dilanda kekeringan di daerah Tanduk Afrika ini. Hanya saja, sayangnya, tawaran ini ada pamrih minyak.
Seperti diketahui, Somalia dikenal memiliki minyak dan cadangan gas dan beberapa sumber daya alam melimpah, termasuk uranium, besi dan seng.*