Hidayatullah.com–Sebuah laporan yang dibuat dalam rangka Tahun Baru Yahudi yang diungkap oleh TV Israel menyebutkan, 2500 warga Israel telah hengkang setiap tahunnya ke Kanada.
Mereka juga negara negeri itu untuk tinggal di AS, Inggris, Australia dan Jerman pada tahun 2011. Angka tersebut diungkapkan oleh peneliti Michel Sharon baru-baru ini. Menurut peneliti, mereka memilih meninggalkan Israel guna mencari kehidupan yang lebih sejahtera di negara barunya.
Dalam sejumlah pertemuan dengan warga Yahudi yang meninggalkan Israel, mereka menegaskan, hidup di tempat baru, seperti di Kanada lebih baik dibanding hidup di negara Israel. Hal itu terkait dengan situasi negeri kaum Yahudi itu yang terus konflik, pembunuhan dan instabilitas yang di terjadi di negara Israel.
Fenomenya ini sangat merisaukan otoritas Yahudi Israel.Harian Maariv Israel, dikutip middleeastmonitor.com menegaskan Menurut surat kabar Israel Maariv, Israel telah kehilangan banyak penduduk yang memilih eksodus dari wilayah tersebut. Biro Pusat Statistik Israel mengatakan bahwa jumlah orang migrasi ke Israel pada tahun 2010 hanya 18.129, terendah sejak tahun 1988.
Rincian statistik migrasi Israel dimuat dalam program televisi Israel, Channel 2 belum lama ini. Sekitar 2.500 warga Israel bermigrasi ke Kanada setiap tahun, salah satu alasan yang diberikan adalah bahwa tidak ada pembicaraan tentang kematian dan kehancuran di sana. Selain itu, hidup di Kanada jauh lebih damai. Fenomena ini menyebabkan pemerintah Israel dilanda kekhawatiran.
Menurut surat kabar Israel Maariv, mengutip Biro Pusat Statistik Israel mengatakan bahwa jumlah migran ke Israel pada tahun 2010 hanya 18.129, yang terendah sejak tahun 1988.
Maariv juga melaporkan bahwa 70 persen Yahudi Amerika belum pernah ke Israel dan berniat tidak akan mengunjungi negara itu meski diberikan sejumlah besar uang pajak pihak pemerintah AS. Lebih dari 50 persen orang-orang Yahudi yang menikah dengan non-Yahudi dan 50 persen tidak peduli jika Israel kehilangan eksistentsinya. Untuk alasan ini, pemerintah Israel sedang mempersiapkan sebuah inisiatif baru bertujuan memperkuat hubungan orang Yahudi di seluruh dunia dengan Israel.
Menurut Maariv, dari 87 persen muda Yahudi dari negara-negara bekas Uni Soviet yang ingin bermigrasi, hanya 36 persen bersedia pergi ke Israel. 38% melihat Israel sebagai tanah yang dijanjikan. Surat kabar itu juga mengatakan bila orang-orang Yahudi dari Eropa Timur tidak lagi dianggap sebagai imigran potensial oleh pihal Israel. Warga Yahudi AS.
Maariv juga menegaskan bahwa daya tarik migrasi ke Israel semakin rapuh sebab Amerika Serikat sudah tidak lagi diharapkan untuk mengisi kesenjangan migrasi besar-besaran. Hanya 2600 Yahudi eksodus dari Amerika tahun 2007, hal yang sama terjadi di negara-negara Barat. Bahkan Yahudi Uni Soviet (dulu) yang menilainya sebagai energi besar bagi penguatan demografi saat ini sudah tidak diandalkan lagi. Apalagi lebih dari 100 persen eksodus dari Rusia ke Israel berasal dari Kristen.
Salah satu faktor fenomena ini adalah membaiknya ekonomi di negara tempat sasaran imigrasi dan hubungan Yahudi dengan Israel adalah hubungan yang lemah. Harian ini menegaskan bahwa Israel tidak akan bisa mendorong imigrasi Yahudi ke sana sebab Israel masih tetap dianggap sebagai negara berbahaya untuk hidup di sana.
Sebelumnya, Israel masih dianggap sebagai jaminan keselamatan kaum Yahudi. Namun saat ini, sebagian besar Yahudi di Amerika menilai bahwa mereka bukan hanya butuh dukungan politik dan dana serta mental namun membutuhkan tempat aman jika terjadi peperangan.
Mengomentari hal ini, seorang ahli geografi Israel, Arnon Sofer mengatakan,
Para ahli masalah air dan kependudukan di Universitas Haifa mengatakan bahwa jumlah orang Arab di Galilee mencapai 640.000 sedangkan orang Yahudi Galilee hanya 570.000 orang. Dia menyarankan perlunya sebuah proyek migrasi Yahudi yang dibiayai oleh pemerintah guna mengubah kependudukan untuk mendukung yahudisasi.*