Hidayatullah.com—Mantan perdana menteri Inggris Tony Blair adalah satu-satunya orang yang dapat membujuk George W Bush membatalkan rencana serangan ke Iraq tahun 2003, kata mantan sekretaris jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan dalam wawancara yang dipublikasikan hari Sabtu (29/9/2012), lansir AFP.
Dalam wawancara dengan koran Times itu, Annan berpendapat Blair dapat mengubah pendirian Bush karena hubungan dekat kedua negara dan juga hubungan pribadi di antara keduanya.
Annan mengaku sering termenung memikirkan apa yang terjadi jika Blair berkata kepada Bush, “George, ini di mana kita berbeda. Kamu sendirian,” menyusul kegagalan penerbitan resolusi PBB kedua atas Iraq.
“Saya sungguh yakin itu bisa menghentikan peperangan,” imbuh penerima Nobel Perdamaian itu.
Annan menjabat sekretaris jenderal PBB ketika invasi Amerika Serikat atas Iraq untuk menggulingkan Saddam Hussein terjadi.
Resolusi pertama Dewan Keamanan PBB menawarkan Iraq kesempatan akhir untuk melucuti persenjataannya secara keseluruhan. Resolusi itu didukung secara bulat pada Nopember 2002.
Namun resolusi kedua yang diajukan AS, Inggris dan Spanyol tahun 2003, yang isinya mengambil tindakan atas rezim Saddam Hussein, dibatalkan karena yakin akan diveto.
Amerika Serikat memutuskan bahwa resolusi itu tidak diperlukan sebelum tindakan militer benar-benar dilakukan. Amerika lantas menginvasi Iraq sejak 20 Maret 2003.
Invasi tersebut, yang menurut Amerika Serikat untuk menjaga perdamaian dan membebaskan Iraq dari kungkungan diktator, justru membawa bencana konflik sektarian sampai saat ini, yang menyebabkan setidaknya 100.000 warga sipil tewas.
Annan menolak pendapat yang mengatakan bahwa sejarah dunia akan berbeda, jika dirinya ketika itu mengundurkan diri, atau menteri luar negeri AS saat itu Colin Powel mundur.
Annan juga menolak seruan Uskup Agung Desmond Tutu yang meminta agar George W Bush dan Tony Blair diadili di Mahkamah Kejahatan Internasional, seba keduanya adalah pemimpin yang terpilih secara demokratis dan mereka semata-mata menjalankan kepentingan negaranya.
Jabatan terakhir Annan di kancah internasional adalah sebagai ututsan khusus PBB untuk Suriah dari Februari sampai Agustus 2012. Annan menolak untuk memperpanjang masa jabatan itu karena mengaku tidak sanggup untuk mengakhiri konflik Suriah.
Wawancara dengan Times itu dilakukan dalam rangka peluncuran memoirnya berjudul “Interventions – A Life in War and Peace”.*