Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Tony Blair Seharusnya Bisa Cegah AS Serang Iraq

Ama Farah
Terakhir diupdate:
Ama Farah
Dipublikasikan 30 September 2012 17:17
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Mantan perdana menteri Inggris Tony Blair adalah satu-satunya orang yang dapat membujuk George W Bush membatalkan rencana serangan ke Iraq tahun 2003, kata mantan sekretaris jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan dalam wawancara yang dipublikasikan hari Sabtu (29/9/2012), lansir AFP.

Dalam wawancara dengan koran Times itu, Annan berpendapat Blair dapat mengubah pendirian Bush karena hubungan dekat kedua negara dan juga hubungan pribadi di antara keduanya.

Annan mengaku sering termenung memikirkan apa yang terjadi jika Blair berkata kepada Bush, “George, ini di mana kita berbeda. Kamu sendirian,” menyusul kegagalan penerbitan resolusi PBB kedua atas Iraq.

“Saya sungguh yakin itu bisa menghentikan peperangan,” imbuh penerima Nobel Perdamaian itu.

Annan menjabat sekretaris jenderal PBB ketika invasi Amerika Serikat atas Iraq untuk menggulingkan Saddam Hussein terjadi.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Resolusi pertama Dewan Keamanan PBB menawarkan Iraq kesempatan akhir untuk melucuti persenjataannya secara keseluruhan. Resolusi itu didukung secara bulat pada Nopember 2002.

Namun resolusi kedua yang diajukan AS, Inggris dan Spanyol tahun 2003, yang isinya mengambil tindakan atas rezim Saddam Hussein, dibatalkan karena yakin akan diveto.

Amerika Serikat memutuskan bahwa resolusi itu tidak diperlukan sebelum tindakan militer benar-benar dilakukan. Amerika lantas menginvasi Iraq sejak 20 Maret 2003.

Invasi tersebut, yang menurut Amerika Serikat untuk menjaga perdamaian dan membebaskan Iraq dari kungkungan diktator, justru membawa bencana konflik sektarian sampai saat ini, yang menyebabkan setidaknya 100.000 warga sipil tewas.

Annan menolak pendapat yang mengatakan bahwa sejarah dunia akan berbeda, jika dirinya ketika itu mengundurkan diri, atau menteri luar negeri AS saat itu Colin Powel mundur.

Annan juga menolak seruan Uskup Agung Desmond Tutu yang meminta agar George W Bush dan Tony Blair diadili di Mahkamah Kejahatan Internasional, seba keduanya adalah pemimpin yang terpilih secara demokratis dan mereka semata-mata menjalankan kepentingan negaranya.

Jabatan terakhir Annan di kancah internasional adalah sebagai ututsan khusus PBB untuk Suriah dari Februari sampai Agustus 2012. Annan menolak untuk memperpanjang masa jabatan itu karena mengaku tidak sanggup untuk mengakhiri konflik Suriah.

Wawancara dengan Times itu dilakukan dalam rangka peluncuran memoirnya berjudul “Interventions – A Life in War and Peace”.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Aljazair Tuntut Pembahasan Pembatasan Kebebasan Berekspresi
Tulisan selanjutnya 2.000 Prajurit Amerika Tewas di Afghanistan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Terbaru

  • Polisi ‘Israel’ Rekrut Aktivis Zionis untuk Perkuat Kehadiran Yahudi Masjidil Aqsha
  • ‘Israel’ Beri Keringanan Pajak bagi Permukiman Ilegal Yahudi di Tepi Barat
  • Genosida ‘Israel’ di Gaza: Jumlah Warga Palestina Hilang Tembus 9.500 Orang
  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?