Hidayatullah.com–Setidaknya 15 warga sipil dari komunitas Fulani tewas pekan lalu ketika seorang pria bersenjata dari kelompok etnis lain menyerang desa mereka di pusat Mali, menurut gubernur distrik pada hari Sabtu.
Kekerasan komunal di negara Afrika Barat telah membunuh ratusan warga sipil tahun ini.
Wilayah Mopti tengah Mali telah mengalami bentrokan etnis terburuk, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Gubernur Mopti, Sidi Alassane Toure mengatakan serangan terakhir terjadi pada hari Rabu.
Toure mengatakan program perlucutan senjata yang diluncurkan pada November di wilayah utara akan diperluas untuk mengekang terorisme.
“Program ini akan diluncurkan dalam waktu dekat dan kami berharap bahwa semua orang yang memiliki senjata akan meletakkan senjata mereka daripada terus melakukan terorisme,” katanya kepada stasiun radio lokal dikutip Reuters.
Sebelumnya, kelompok militan merebut gurun di Mali utara pada tahun 2012.
Baca: Kelompok Ansar Dine Mengklaim Serang Pasukan PBB di Mali
Pasukan Prancis kemudia ikut mencampurkan tangan pada tahun berikutnya untuk merebut kekuasaan tetapi pejuang yang berhubungan dengan kelompok al-Qaeda dan ISIS bergabung kembali.
Mereka telah menggunakan konflik etnis untuk merekrut anggota baru.
Serangan mereka yang sering terjadi di Mali dan negara-negara tetangga telah menyebabkan kegelisahan di antara kekuatan-kekuatan Barat.*