Hidayatullah.com—Pemerintah Zionis Yahudi berupaya meningkatkan jumlah serdadunya melalui sekolah-sekolah menengah dengan memberi keuntungan ekonomi kepada para guru yang mendorong muridnya masuk dinas militer.
Dilansir Xinhua, hari Senin (21/1/2013) Kementerian Pendidikan Zionis mengkonfirmasi bahwa pihaknya memberikan hadiah kepada para guru berupa insentif positif, guna meningkatkan performa mereka di berbagai bidang seperti akademik, sosial dan juga persentase jumlah murid yang masuk militer usai mereka lulus dari sekolahnya.
Menurut surat dari Kementerian Pendidikan Zionis Israel yang dikirim ke Xinhua, sekolah yang mampu mendorong 40% lulusannya masuk militer akan diberikan hadiah bonus untuk para gurunya.
Sistem pemberian hadiah ini, yang diadakan oleh pihak kementerian sejak satu tahun lalu, mendapat kritikan sebab diyakini akan mendorong pada indoktrinasi dan nasionalisme ekstrim.
Sharaf Hassan, direktur Asosiasi Hak-Hak Sipil di Israel kepada Christian Science Monitor mengatakan, program insentif semacam itu akan mengorbankan pendidikan umum, yang ditujukan untuk mendidik warga Israel tentang demokrasi dan kewarganegaraan.
Di Israel, setiap orang yang sudah berusia 18 tahun baik laki-laki maupun perempuan harus mengikuti wajib militer, meskipun ada beberapa pengecualian. Orang Yahudi di Israel biasanya menghindari kewajiban itu dengan cara mendaftarkan diri masuk sekolah agama. Sementara warga selain Yahudi punya pilihan untuk bergabung dengan dinas keamanan sipil dan bukannya militer. Dalam beberapa kasus, orang Arab yang ada di Israel dikecualikan dari kewajiban itu.*