Hidayatullah.com–Sekelompok aktivis Katolik Roma mengatakan, Paus Francis saat sebagai Kepala Gereja Argentina memiliki rekor lambat dalam bertindak melawan pelecehan seksual oleh pastor. Mereka mendesak Paus meminta maaf atas perlindungan gereja terhadap dua pastor, yang kemudian dapat dihukum karena menyerang anak-anak secara seksual.
Seorang pengacara untuk beberapa korban, mengatakan, ketika Paus masih menjadi Uskup Agung Buenos Aires, dia tidak mau bertemu atau membantu para korban, dan para pejabat gereja tingkat menengah yang menutupi-nutupi masalah pelecehan itu, sampai sekarang masih bertugas seperti biasa.
Kantor Uskup Agung Buenos Aires juga tidak segera menangani persoalan itu, pun sampai hari Selasa (19/03/2013) Francis dikukuhkan sebagai Paus dalam upacara di Vatikan yang dilihat di seluruh dunia.
Kelompok Akuntabilitas Uskup yang berbasis di Amerika Serikat, seperti diberitakan CBC News, Selasa (19/03/2013), menyebutkan, ada dua pastor melakukan pelecehan; Pastor Julio Cesar Grassi, yang memiliki Yayasan Happy Children dan dihukum pedofilia pada tahun 2008, dan Pastor Napoleon Sasso, dihukum pada tahun 2007 karena melakukan pelecehan terhadap sejumlah gadis di dapur umum pinggiran kota Buenos Aires. Ia dimutasi ke tempat itu, setelah melakukan pedofilia di tempat lain.
Grassi sedang meminta banding atas kasusnya, yang mengajukan di antaranya justru Gereja Katolik Roma Argentina yang dipimpin Francis saat menjabat Uskup Agung Buenos Aires. Atas kasus Sasso, Francis ketika itu sebagai pengawas Konferensi Uskup Argentina saat Sasso ditugaskan ke dapur umum di satu kapel, kata Ernesto Moreau, pengacara bagi para korban.
Akuntabilitas Uskup yang juga seorang sutradara, Anne Doyle, mengatakan, Francis berada di belakang layar untuk menangkis segala upaya oleh pihak global dalam menangani pelecehan seks oleh para pastor gereja, yang meletus pada tahun 2002 setelah ribuan kasus menjadi muncul publik di Amerika Serikat dan di seluruh dunia.
“Jika saja ia (Paus Francis) melakukannya di tahun 60-an atau 70-an, mungkin kami hanya cukup mengelus dada,” kata Doyle pada The Associated Press. “Tapi faktanya dia melakukan hanya pada lima tahun yang lalu, ketika para uskup di negara-negara lain mau bertemu korban dan menerapkan hukum, justru ia menyingkirkan ke belakang kasus-kasus rekannya sesama orang Amerika, itu sudah pasti.”
Kelompok itu mengatakan, sebagai bentuk tanpa toleransi untuk pelecehan seksual di gereja, Paus yang baru harus memberitahu Keuskupan Agung Buenos Aires untuk membuka file lengkap di Grassi dan kasus Sasso, juga membuka ke publik para pastor lain yang diduga melakukan pelecehan seks dan mendukung pelaporan oleh para pejabat gereja dalam penegakan hukum bagi mereka yang dicurigai.
Francis harus mengakui bahwa dia bertindak salah dalam membela pastor yang melanggar, meminta maaf kepada para korban Grassi dan Sasso, dan menawarkan untuk bertemu dengan mereka, kata kelompok itu.
Grassi dikenal di Buenos Aires dalam menggugah para selebriti untuk menyumbang ke yayasannya, Happy Children, yang menaungi anak yatim piatu dan program sosial lainnya. Sebelum ia dihukum karena pelecehan anak, Grassi memuji Francis yang “tidak pernah meninggalkan dia.”
Sasso ditugaskan ke dapur umum di satu kapel, yang kamar tidurnya bersebelahan dengan satu-satunya kamar mandi. Sebelumnya, ia tinggal di asrama para pastor, yang kemudian mendapat tuduhan pedofilia yang dilakukan di provinsi terpencil di San Juan terpencil.
“Kamar mandi itu memiliki dua pintu. Gadis-gadis akan masuk melalui pintu luar, dan pastor akan membawa mereka ke kamarnya melalui pintu lain. Terjadilah pelecehan seksual terhadap anak-anak,” kata Moreau. “Anak-anak itu benar-benar orang-orang miskin, yang berada di sana untuk mendapatkan makan gratis saat orang tua mereka bekerja. Di komputer sang pastor terdapat sejumlah besar pornografi anak…”
Sasso telah melakukan pelecehan terhadap 25 anak perempuan berusia tiga sampai 16 tahun. Tetapi ketika mereka memberitahu pejabat gereja, mereka diberitahu untuk “tetap sabar,” dan tidak ada penanganan lebih lanjut, kata Moreau.
Akhirnya, mereka mencari otoritas yang lebih tinggi dan kasus itu diambil oleh pengadilan pidana. Tetapi pejabat gereja tingkat menengah tetap menutupi kasusnya, sedangkan imam dan biarawati dipaksa bekerja di tempat lain, kata Moreau.
Sasso kemudian menjadi buronan dan bersembunyi selama satu tahun di gereja di keuskupan yang sama tempat pelecehan terjadi, ucap Moreau.
Sasso sekarang mendapatkan satu hari cuti bulanan dari penjara setelah menjalani setengah dari hukuman 17 tahun untuk pelecehan terhadap lima perempuan.*