Hidayatullah.com—Sedikitnya delapan wanita etnis Islam Rohingnya di sebuah desa terpencil di barat laut mengabarkan diperkosa dan diserang secara seksual oleh tentara Myanmar yang menyerbu kediaman mereka minggu lalu.
Delapan wanita tersebut menceritakan kembali detik-detik bagaimana tentara Myanmar menyerang dan memperkosa mereka dengan ditodong pistol di kepala kepada kantor berita Reuters di desa U shey Kya di negeri Rakhine.
Mereka mengklaim, sekitar 150 tentara menyerbu desa tersebut pada 19 Oktober lalu dan mulai menggeledah serta membakar rumah-rumah untuk menghapus kelompok pemberontak Islam di daerah tersebut.
Pengungkapan itu turut diakui oleh tiga lagi penduduk pria yang tinggal di wilayah tersebut termasuk pemimpin masyarakat Rohingya di Maungdaw yang telah mengumpulkan laporan tentang kejadian itu.
Kejadian dikatakan terjadi ketika kebanyakan penduduk pria meninggalkan desa tersebut karena takut dicurigai sebagai pemberontak dan kaum wanita terpaksa tinggal sendirian untuk melindungi rumah yang kosong dari dibakar oleh pihak militer.
“Mereka tidak hanya memperkosa saya berulang kali bahkan mengancam untuk membunuh dan tidak akan mengizinkan kami hidup di negara ini. Mereka juga bertindak kejam merampas harta benda, perhiasan, uang dan tong penyimpanan beras kami juga ditaburi dengan pasir, “kata seorang wanita berusia 30 tahun dikutip iBTimes Jumat (28/10/2016).
Seorang wanita berusia 40 tahun itu mengakui, empat tentara telah memperkosanya dan menyerang anak perempuannya yang berusia 15 tahun serta menyita semua perhiasan dan uang tunai milik anggota keluarga mereka.
Seorang lagi korban berusia 32 tahun mengatakan, meskipun sudah tidak memiliki makanan dan pakaian, mereka tidak dapat bergerak ke desa lain untuk mendapatkan bantuan serta perawatan medis karena merasa sangat takut.
Tak hanya memperkosa, para wanita itu melaporkan, tentara-tentara Burma juga mengambil emas, uang dan apa pun yang berharga dari gubuk bambu mereka, dan membakar rumah-rumah desa dan toko beras dengan menuangkan pasir diatasnya.
Kepala Polisi Rakhine, Kolonel Sein Lwin bagaimanapun menolak tuduhan tersebut dan tim militer tidak memberikan tanggapan atas insiden itu.
Sein Lwin, kepada Reuters bahkan mengklaim berita pemerkosaan hanya “propaganda oleh kelompok Muslim.”
Otoritas Burma lain, termasuk juru bicara presiden Zaw Htay, mengatakan kepada Reuters kelompok ISIS dan al Qaeda menggunakan taktik yang serupa untuk menginspirasi militan untuk melakukan serangan teror jihad-termotivasi.
Sejak 9 Oktober lalu, tentara Myanmar melakukan operasi besar-besaran di kota Maungdaw di Rakhine setelah sembilan anggota polisi perbatasan tewas diserang dekat perbatasan Bangladesh.
Pemerintah Myanmar menuduh kelompok bersenjata yang dikatakan terdiri dari sekitar 400 pejuang Rohingya bertanggung jawab atas serangan itu.
Sekitar 100.000 Muslim Rohingya ditampung di kamp-kamp pengungsian sejak kekerasan komunal tahun 2012 yang mengakibatkan lebih dari 100 orang tewas dan 140.000 lainnya mengungsi, demikian lapor Time.
PBB Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia, Zeid Ra’ad Al Hussein, telah mendesak pemerintah untuk mengakhiri “diskriminasi sistemik” dan pelanggaran hak asasi manusia yang sedang berlangsung terhadap rakyat Rohingya.
Pejuang Demokrasi Aung San Suu Kyi Berang Diwawancarai Jurnalis Muslim
Meski peraih nobel Aung San Suu Kyi dipuji dunia bahkan partainya Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) memenangi Pemilu, tetapi perjuangannya mengatasi diskriminasi terhadap Muslim Rohingya hingga saat ini belum terlihat.*