Hidayatullah.com—Jerman meminta maaf kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa atas kesalahannya dalam penyelidikan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok neo-Nazi NSU, beberapa hari sebelum proses pengadilan atas satu-satunya anggota NSU yang tersisa.
Pembunuhan yang dilakukan NSU “tidak diragukan lagi merupakan pelanggaran HAM paling buruk di Jerman dalam beberapa dekade terakhir,” kata Markus Löning dari ombudsman HAM Jerman kepada komite HAM PBB di Jenewa, Kamis (25/4/2013).
“Saya ingin mengulangi permintaan maaf ini secara langsung di forum ini,” katanya lagi.
“Pihak jaksa penuntut gagal mengungkap motif sebenarnya dan oleh karenanya tidak menangkap para pelaku pembunuhan tersebut,” kata Löning dikutip Deutsche Welle.
NSU, sel pembunuh dari kelompok neo-Nazi, dituduh melakukan pembunuhan atas 10 orang antara tahun 2000 sampai tahun 2007. Delapan di antaranya merupakan orang-orang keturunan Turki, seorang tukang kunci keturunan Yunani dan seorang polisi wanita Jerman. Keberadaan tim pembunuh dari gerakan neo-Nazi itu baru diugkap aparat Jerman pada tahun 2011. Satu-satunya anggota yang tersisa, Beate Zschaepe, merupakan anggota inti NSU yang akan disidang mulai 6 Mei mendatang.
Berlin secara terbuka meminta maaf kepada keluarga korban, atas kegagalan detektif-detektifnya menemukan titik dan menghubungkan bukti-bukti yang ada dengan gerakan neo-Nazi, dan karena telah memperlakukan anggota keluarga sebagai tersangka potensial selama penyelidikan berlangsung.
Permintaan maaf itu disampaikan Löning sebagai tanggapan atas pernyataan utusan Turki untuk PBB, Oguz Demiralp, yang mengatakan bahwa sekitar 3 juta orang keturunan Turki di Jerman mengalami kesulitan seiring dengan meningkatnya xenofobia di negara Eropa itu. Demiralp menyarankan agar Berlin melakukan tindakan yang lebih maju dan mengambil tindakan nyata guna mengatasi merebaknya faham neo-Nazi dan xenofobia, ketakutan atas orang asing yang biasanya bertendensi rasis.*