Hidayatullah.com—Dua kelompok mahasiswa yang saling berseberangan, pro-Mursy dan lawannya, terlibat kerusuhan di Mesir hari Ahad (29/9/2013), kata media pemerintah dan sumber keamanan. Bentrokan berakar dari masalah penggulingan presiden Muhammad Mursy, lapor Reuters dikutip Ahram Online.
Sedikitnya 29 orang terluka dalam perkelahian antara pendukung Mursy dengan kelompok penentangnya, yang terjadi sedikitnya di tiga kampus. Sebagian dari mereka membawa senjata dan bom molotov.
Kudeta militer 3 Juli, pembubaran kamp demonstran pro-Mursy, serta vonis pengadilan yang menyatakan Al-Ikhwan al-Muslimun sebagai organisasi terlarang, mendorong pendukung Mursy –yang merupakan anggota Ikhwan– terus melakukan unjuk rasa, tidak hanya di jalanan tetapi juga memasuki wilayah kampus.
Aksi demonstran pro-Mursy di dalam kampus mendapat perlawanan di Universitas Ain Shams hari Ahad kemarin, yang menurut sumber keamananan mengakibatkan 12 orang terluka.
Di Universitas Zagazig, lima belas orang dilaporkan terluka akibat dua kelompok yang bentrok itu sebagian di antaranya menggunakan senjata api dan bom molotov.
Koran pemerintah Al-Ahram melaporkan, seorang penembak tak dikenal melancarkan serangan ke arah kerumunan mahasiswa yang berjalan sambil meneriakkan slogan anti-militer, di kampus yang terletak di utara Kairo, tempat Mursy pernah mengajar.
Dua orang terluka dalam bentrokan di sebuah universitas di kota Tanta, Delta Nil, kata sejumlah sumber.
Sementara laporan MENA sebelumnya menyebutkan, bentrokan saat unjuk rasa pro-Mursy hari Rabu (25/9/2013) di Univeritas Zagazig di Sharqiya mengakibatkan 5 orang terluka. Sedangkan di Universitas Alexandria, mahasiswa Fakultas Seni bentrok dengan mahasiswa pro-Mursy yang melakukan unjuk rasa, sehingga sejumlah mahasiswa terluka, lapor Al-Ahram.
Hari Sabtu (21/9/2013), mahasiswa anggota Al-Ikhwan berunjuk rasa di kampus Universitas Mansoura. Hari itu bertepatan dengan hari pertama kuliah di musim gugur tahun ini di perguruan-perguruan tinggi Mesir.
Di awal tahun ajaran baru itu pula Syeikh Ali Jum’ah yang sedang menjadi penguji di Kuliyah Darul Ulum Universitas Kairo diganggu oleh kelompok pro-Mursy yang berusaha mengusirnya.
Menanggapi upaya pengusiran dan kata-kata celaan yang diterimanya, Syaikh Ali Juma’ah mengatakan, yang perlu disalahkan dalam hal ini adalah para pemimpin mereka yang gagal memberikan pendidikan akhlak kepada para pemudanya.[Baca berita sebelumnya, Syeikh Ali Jum’ah: Mereka adalah anak-anak saya] *