Hidayatullah.com—Akibat serangan Taliban, tiga pejabat Dana Moneter Internasional (IMF) tewas pada hari Jumat (17/01/2014). Mereka yang tewas satu warga negara Inggris dan dua dari Kanada, termasuk di antara 21 orang yang meninggal akibat serangan bom bunuh diri di Kabul, Afganistan.
Di antara korban serangan di sebuah restoran yang populer di Kabul adalah 13 warga asing, kata polisi setempat dikutip CNN.
Digambarkan para pelanggan putus asa dan mencoba untuk bersembunyi di bawah meja ketika salah satu penyerang datang dan meledakkan rompi bom. Sementara dua orang bersenjata masuk dan melepaskan tembakan.
Di antara yang meninggal adalah perwakilan senior IMF dari Inggris dan Kanada. Selain itu, ada empat saf PBB di sana juga meninggal, namun tidak diketahui kebangsaannya. Pemilik restoran asal Lebanon dikabarkan meninggal setelah mencoba untuk menembak kembali pada para penyerang.
“Angka korban terbaru adalah 21 meninggal, termasuk 13 orang asing dan delapan warga Afghanistan,” kata kepala polisi Kabul, Mohammad Zahir hari Sabtu (18/01/2014).
“Lima perempuan termasuk di antara yang meninggal dan sekitar lima orang luka-luka.”
Restoran Taverna telah lama berdiri dan menjadi tempat makan biasa bagi para diplomat asing, konsultan, pekerja bantuan untuk Afghanistan, dan sibuk dengan pelanggan pada hari Jumat (17/01/2014), hari libur mingguan di Afghanistan.
Seperti kebanyakan di Kabul, restoran itu menjalankan pemeriksaan keamanan yang ketat dengan pengunjung harus melewati penjaga bersenjata dan setidaknya dua pintu baja sebelum diizinkan masuk.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Ban Ki-moon, mengecam keras aksi serangan tersebut. Dia mengatakan bahwa “serangan yang ditargetkan terhadap warga sipil seperti itu benar-benar tidak dapat diterima dan pelanggaran mengerikan terhadap hukum kemanusiaan internasional.”
Serangan itu diklaim oleh Taliban yang menyatakan berperang melawan pemerintah Afghanistan dan pasukan asing pimpinan Amerika Serikat di negara itu.
Seorang juru bicara militan mengatakan bahwa serangan itu untuk membalas serangan udara AS di Provinsi Parwan pada hari Selasa (14/01/2014) malam.
“Pasukan invasi telah membom secara brutal terhadap warga sipil … dan mereka telah mati syahid dan melukai 30 warga sipil. Ini adalah serangan balas dendam dan kami melakukannya dengan baik, dan kami akan terus melakukannya,” kata Zabihullah Mujahid, juru bicara Taliban, dalam sebuah pernyataan.
Lokasi restoran ini berada dikawasan Wazir Akbar Khan. Lokasi ini tak jauh dari sejumlah sejumlah kedutaan negara-negara asing berdiri. Antara lain kedutaan Belgia, Inggris, Denmark, Swedia dan Norwegia. Karena itulah tempat makan ini menjadi salah satu lokasi tempat berkumpulnya para ekspatriat di Kabul.
Insiden ini sendiri terjadi saat restoran Libanon, Taverna du Liban dipadati pengunjung yang tengah menikmati makan malam. Seorang pelaku kemudian meledakan diri di depan pintu masuk.
Penarikan Pasukan
“Kami dengan tegas mengecam, tentu saja, pada perbuatan tercela terorisme ini,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Jen Psaki di Washington.
Pasukan NATO akan ditarik dari Afghanistan setelah lebih dari satu dekade melawan Taliban di sana, tetapi negosiasi terhenti pada perjanjian keamanan yang akan memungkinkan sebagian tentara AS dan NATO untuk bertahan setelah 2014.
Pasukan keamanan Afghanistan yang masih muda menghadapi tahun yang sulit pada 2014 ini, di mana kelompok pejuang mencoba untuk mengganggu Pemilihan Umum yang akan dilakukan Pemilu 5 April mendatang. Pemilu diadakan untuk memilih pengganti Karzai.
Pasca invasi Amerika dan sekutunya ke Afghanistan praktis membuat Negara ini tidak memiliki keamanan yang pasti.
Banyak tentara asing melakukan pelanggaran kemanuaian. Tahun 2013, pemerintah Aghanistan bahkan meminta pasukan asing dibawa kendali Amerika segera diusir dari tanah itu. Demikian pernyataan Presiden Hamid Karzai hari Pebruari 2013).*