Hidayatullah.com—Turki melakukan blokir atas situs Twitter beberapa jam setelah Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan mengancam akan mematikannya, karena pengguna media sosial itu berkicau soal tuduhan korupsi yang ditujukan kepadanya.
Para pengguna mengatakan hari Jumat bahwa mereka dialihkan dari situs Twitter.com kepada sebuah pernyataan dari regulator telekom Turki, TIB, yang menyatakan pengadilan memerintahkan situs itu ditutup.
Pernyataan itu menyebutkan empat alasan mengapa situs, yang dipakai penggunanya untuk mengunggah tautan rekaman suara dan dokumen yang diduga sebagai bukti korupsi orang-orang dekat di sekitar Erdogan, ditutup.
Dilansir Aljazeera (21/3/204), AFP melaporkan bahwa menurut kantor berita pemerintah Anatolia, pihak berwenang “secara teknis memblokir akses ke Twitter,” karena situs itu menolak perintah untuk menghilangkan sejumlah tautan yang dianggap ilegal.
Twitter mengaku sedang menyediliki soal itu, tetapi tidak mengeluarkan pernyataan resmi. Twitter menampilkan pesan berisi petunjuk bagaimana cara agar penggunanya di Turki tetap bisa menggunakan layanannya melalui SMS.
Erdogan hari Kamis mengancam akan “mencerabut akar” dan “menghapus” layanan Twitter, yang menurutnya membantu musuh-musuh politiknya melancarkan kampanye buruk atas dirinya.
“Masyarakat internasional bisa mengatakan ini, mengatakan itu. Saya sama sekali tidak peduli. Semua orang akan melihat betapa kuatnya Republik Turki,” kata Erdogan dikutip Aljazeera.
Salah satu tautan yang dimuat oleh pengguna Twitter mengarahkan pengguna kepada rekaman suara, di mana diduga Erdogan memerintahkan putranya menyingkirkan sejumlah uang dari tempat tinggalnya karena polisi sedang menyelidiki kasus korupsi.
Erdogan bersikukuh mengatakan rekaman-rekaman itu palsu dan merupakan hasil rekayasa untuk memojokkan pemerintahannya menjelang pemilu 30 Maret ini.
“Jika pejabat Twitter menolak untuk melaksanakan perintah pengadilan dan keputusan hukum … maka tidak ada pilihan lain kecuali menghalangi akses ke Twitter demi membantu mengatasi keluhan warga negara kami,” kata pernyataan dari kantor Erdogan.
Dua pekan lalu Erdogan juga mengatakan bahwa Turki bisa juga melarang Facebook dan YouTube, yang menurutnya disalahgunakan oleh musuh-musuhnya.*