Hidayatullah.com—Tunisia hari Ahad (28/6/2015) mengatakan bahwa pemerintah akan mengerahkan polisi bersenjata di tempat-tempat tujuan wisata, menyusul serangan bersenjata yang menewaskan 38 orang di daerah pantai El-Kantaoui.
Dewan Keamanan Nasional melakukan pertemuan di ibukota Tunis guna membahas tindakan apa yang harus diambil menyusul serangan hari Jumat itu, yang merenggut nyawa sedikitnya 15 warga Inggris.
Kementerian Pariwisata mengkonfirmasi rencana mengerahkan 1.000 petugas keamanan bersenjata mulai 1 Juli besok guna memperkuat polisi wisata Tunisia, yang juga akan dibekali senjata untuk pertama kalinya, lapor AFP.
Petugas keamanan bersenjata itu akan diturunkan di “dalam dan luar” hotel-hotel, di pantai-pantai, serta tempat wisata dan situs arkeologi, kata kementerian dalam pernyataannya.
Dalam pernyataan terpisah usai pertemuan Dewan Keamanan Nasional, Presiden Beji Caid Essebsi menekankan perlunya “kewaspadaan yang lebih” dan meninta pemerintah mempertimbangkan untuk “mengambil tindakan tidak biasa” guna menghadapi ancaman-ancaman di masa mendatang.
Pihak berwenang sebelumnya telah menutup 80 masjid yang dituding memicu ekstrimisme.
Serangan hari Jumat itu diklaim dilakukan oleh ISIS/ISIL. Serangan tersebut terjadi 3 bulan setelah serangan atas Museum Nasional Bardo di Tunis yang menewaskan 21 pelancong dan seorang polisi. Serangan di museum itu juga diklaim oleh ISIS/ISIL.*