Hidayatullah.com—Perundingan damai soal Suriah di Jenewa, Swiss, yang dijadwalkan dimulai hari Jumat ini (29/1/2016) akan dilaksanakan tanpa kehadiran tokoh-tokoh dari kalangan oposisi. Ketidakhadiran mereka mengancam perundingan damai yang disokong Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengakhiri lima tahun perang sipil di Suriah kembali gagal.
Dewan oposisi, dukungan Arab Saudi, sedang berada di Riyadh ketika mengumumkan mereka pastinya tidak akan mengirimkan delegasi ke Swiss.
George Sabra, seorang oposisi anggota High Negotiations Committee (HNC) berkata, “Pastinya … tidak akan delegasi dari High Negotiations Committee besok di Jenewa.”
Seorang pejabat HNC yang tidak disebutkan namanya mengatakan pihak oposisi tidak akan menghadiri perundingan jika tuntutan mereka tidak dipenuhi dalam waktu dua, tiga atau empat hari.
Sebagai prasyarat mengikuti perundingan, HNC meminta jaminan rezim Suriah tidak lagi menyerang warga sipil, para tahanan akan dilepaskan dan blokade-blokade dicabut.
Utusan khusus PBB Staffan de Misruta kelihatannya akan membuka pertemuan itu hari Jumat, meskipun pihak yang berkomitmen datang hanyalah pemerintah Suriah, lapor Deutsche Welle.
Pasukan pemerintah Presiden Bashar Al-Assad belakangan ini berhasil merebut sejumlah daerah dengan bantuan serangan udara Rusia dan Iran.
Tuntutan HNC didukung oleh PBB, tetapi Suriah tidak memberikan komitmen.
Perundingan itu ditujukan untuk mengakhiri perang sipil, yang telah menewaskan lebih dari 250.000 dan menyebabkan jutaan orang kehilangan tempat tinggal. Pertemuan itu awalnya dijadwalkan dimulai pada hari Senin lalu, tetapi ditunda karena banyak pertikaian soal siapa yang akan diundang hadir.
Turki bersikeras menentang kehadiran kelompok kuat Kurdi Suriah, Partai Uni Demokratik (PYD). Meskipun PYD didukung penuh oleh Amerika Serikat, tetapi Turki menganggapnya sebagai kelompok teroris yang berafiliasi dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK). PKK dinyatakan terlarang di Turki, dan dimasukkan ke dalam daftar teroris oleh pemerintah Ankara dan Washington.
Rusia bersikeras PYD diundang dalam perundingan itu, tetapi Turki bersikeras mengancam akan memboikot jika PYD diundang.
Utusan PBB De Misruta mendesak agar pihak-pihak yang berperang untuk mengakhiri pertumpahan darah.
“Lima tahun konflik ini sudah sangat keterlaluan,” kata De Misruta. “Konferensi ini harus menjadi kesempatan yang tidak boleh dilewatkan.”*