Hidayatullah.com—Bencana alam dan perubahan iklim bisa menimbulkan dampak buruk terhadap kota-kota di negara-negara maju, sehingga lebih dari 77 juta orang akan tergelincir masuk dalam jurang kemiskinan, kata Bank Dunia.
Dari 7,5 miliar populasi dunia, sebanyak satu miliar lebih atau 1 dari setiap 7 orang, hidup dengan uang kurang dari $1,25 perhari (sekitar 16.300 rupiah). Angka itu bisa meningkat tajam pada 2030 jika pemerintah negara-negara di dunia tidak memiliki rencana yang lebih baik guna menanggulangi bencana, kata Bank Dunia dalam laporan bersama dengan Global Facility for Disaster Reduction.
“Menjadi tempat tinggal bagi 55% populasi dunia, daerah perkotaan adalah mesin pertumbuhan global dengan kontribusi 80 persen dari GDP global. Akan tetapi, tingginya kepadatan penduduk, banyaknya pekerjaan serta aset yang menjadikan kota begitu sukses, juga menjadikan mereka -dan industri global- sangat rentan terhadap beragam kejutan dan tekanan baik alami maupun yang ditimbulkan oleh manusia itu sendiri,” kata Bank Dunia dalam sebuah rilis persnya seperti dikutip Deutsche Welle (12/10/2016).
Guna persiapan menghadapi krisis, pemerintah-pemerintah perlu mempercepat investasi yang dapat menyelamatkan orang-orang miskin dari dampak bencana semacam itu, kata Bank Dunia.
“Investasi tahan banting mulai saat ini sangat penting dilakukan guna memastikan kesejahteraan kota-kota di berbagai belahan dunia berikut orang-orang yang tinggal di dalamnya,” kata Ede Ijasz-Vasquez kepada para wartawan.
“Kita sedang menuju keadaaan di mana keselamatan kota-kota di seluruh dunia berada di ujung tanjuk,” imbuhnya.
Meningkatnya suhu iklim global akan menimbulkan bencana alam yang memaksa puluhan juta orang penduduk daerah perkotaan terjerumus dalam kemiskinan, dengan perkiraan kota-kota di seluruh dunia harus menanggung beban $314 miliar setiap tahun sampai 2030.
Dalam laporan itu para peneliti mengatakan bahwa negara-negara di dunia harus membangun infrastruktur yang tahan segala cuaca dan itu akan menguras kocek pemerintah hingga $1 triliun, jumlah yang sangat besar. Meskipun demikian, uang yang perlukan untuk keperluan itu sebenarnya tersedia dalam bentuk modal institusi, pensiun, serta dana investasi milik negara.
Laporan Bank Dunia itu dirilis menjelang konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang akan membahas masalah perumahan dan pembangunan perkotaan berkelanjutan di Ekuador pekan depan. Pertemuan tingkat tinggi itu ditujukan untuk menetapkan pedoman keberlanjutan kehidupan perkotaan kurun dua dekade ke depan.*