Hidayatullah.com–Arab Saudi menginformasikan pada Mesir bahwa pengiriman produk minyak di bawah kesepatakan bantuan senilai $23 Miliar telah dihentikan tanpa batas waktu, menunjukkan dalamnya keretakan hubungan antara kedua negara.
Pada Senin menteri perminyakan Mesir, Tarek El Molla, memastikan Arab Saudi telah menghentikan pengiriman itu tanpa batas waktu. Aramco tidak berkomentar mengenai penghentian tersebut dan tidak menjawab panggilan yang dilakukan pada hari itu.
“Mereka tidak menjelaskan alasannya,” seorang pejabat di kementrian perminyakan Mesir mengatakan pada Reuters. “Mereka hanya menginformasikan otoritas tentang penghentian pengiriman produk petroleum hingga pemberitahuan lebih lanjut,” kutip laman MiddleEastEye, Rabu (09/11/2016).
Arab Saudi telah menjadi penyumbang besar bagi Mesir sejak Presiden Abdel Fattah al-Sisi (Adul Fatah al Sisi) berkuasa pada pertengahan 2013, tetapi Riyadh menjadi frustasi dikarenakan kurangnya perubahan ekonomi Sisi dan keengganannya ikut serta dalam konflik di Yaman.
Ketika kunjungan Raja Salman di Mesir pada April, Arab Saudi setuju untuk menyediakan 700.000 ton produk minyak sulingan per bulannya selama lima tahun, tetapi kargo-kargo minyak itu berhenti datang di awal Oktober ketika memburuknya ketegangan politik diantara mereka.
Pejabat Mesir telah mengatakan selama kontrak dengan perusahaan minyak negara Arab Saudi, Aramco, masih valid dan mengharapkan bahwa minyak akan segera mengalir kembali.
Pernyataan tersebut datang ketika Mesir dipaksa untuk menyangkal laporan pada Minggu bahwa Molla sedang terbang ke Iran untuk menegosiasikan kesepakatan minyak baru.
Meskipun begitu, berbicara di Abu Dhabi, Molla pada Senin mengatakan dia tidak akan pergi ke Iran. Tidak lama setelah pernyataannya, seorang pejabat perminyakan Iran mengatakan bahwa laporan perjalanan oleh kantor berita Mehr “tidak benar”.
Harian al-Ahram mengutip Perdana Menteri Mesir Sherif Ismail yang mengatakan Molla sedang tidak mengunjungi Iran dan Mesir sedang tidak bernegosiasi dengan Teheran mengenai import produk minyak.
Reuters melaporkan bahwa dua sumber keamanan dan sumber di delegasi Molla mengatakan bahwa menteri itu telah dijadwalkan pergi, dan kunjungan mencolok tersebut ditunda semenjak beritanya tersebar ke publik.
Negara-negara Arab Teluk, dipimpin Arab Saudi, telah menginjeksi miliaran dollar pada ekonomi Mesir yang melemah sejak mantan jenderal Sisi mengkudeta kekuasaan al Ikhwan al Muslimun yang terpilih secara sah.
Tetapi meskipun dengan berkurangnya ancaman Ikhwanul Muslimin, para pemimpin Teluk semakin sadar terhadap apa yang mereka anggap sebagai ketidaksanggupan Sisi untuk mereformasi ekonomi yang telah menjadi sebuah lubang hitam bagi bantuan.
Mesir telah menyatakan keengganannya untuk menyediakan bantuan militer bagi Arab Saudi dalam memerangi kelompok pemberontak Syiah Houthi yang didukung Iran di Yaman.
Di Suriah, di mana Arab Saudi merupakan pendukung utama para pembebasan yang bertempur melawan rezim Bashar al-Assad dukungan Iran, Sisi telah mendukung keputusan Rusia untuk melakukan pemboman demi mendukung presiden Suriah.*/Nashirul Haq AR