Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Yahya Jammeh Akhirnya Lepas Jabatan Presiden dan Tinggalkan Gambia

Ama Farah
Terakhir diupdate: 22 Januari 2017 13:56 1:56 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 22 Januari 2017 13:44
Bagikan
Setelah berkuasa 22 tahun, Yahya jammeh menyerahkan kekuasaan dengan damai, pergi tinggalkan Gambia.
Bagikan

Hidayatullah.com—Yahya Jammeh, presiden Gambia yang sempat ogah melepaskan jabatan dan menyerahkannya ke presiden baru terpilih penggantinya, akhirnya bersedia meninggalkan kursi empuk yang didudukinya selama 22 tahun dan mengasingkan diri ke luar negeri.

Jammeh menaiki pesawat yang membawanya ke Guinea dan dari sana akan melanjutkan perjalanan menunju ke tempat pengasingan di Guinea Ekuatorial, kata Ecowas seperti dikutip BBC Ahad (22/1/2017).

Jammeh kalah dalam pemilihan presiden Desember 2016 melawan pesaingnya Adama Barrow. Namun dia enggan beranjak dari kursi kepala negara.

Barrow yang saat ini masih mengungsi sementara ke Senegal, mengatakan akan kembali ke Gambia segera.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Marcel de Souza, presiden Economic Community of West African States (Ecowas), mengatakan operasi militer yang mengirimkan pasukan Afrika Barat ke Gambia untuk mendukung Barrow, sekarang berakhir, meskipun sebagian personel masih ditempatkan di negara itu guna memastikan keamanan.

Yahya Jammeh, yang pernah menyatakan Gambia sebagai negara Islam dan menggunakan hukum syariah, tiba di bandara dengan iring-iringan panjang kendaraan para pendukungnya yang bersorak-sorai mengiringi kepergiannya.

Dia berdiri di sebuah pijakan kecil sambil mendengarkan musik seremonial yang dimainkan oleh band militer, lalu berjalan di atas karpet merah yang dikelilingi oleh para pejabat dan tokoh terkemuka Gambia.

Jammeh kemudian melangkah menaiki anak-anak tangga pesawat, memutar badannya, mencium dan melambaikan sebuah kitab Al-Qur’an yang dibawanya.

  • Tolak neo-kolonialisme, gambia keluar dari Persemakmuran Inggris
  • Selama Ramadhan, musik, tabuh-tabuhan dan joget dilarang di Gambia

Setelah 22 tahun berkuasa, Jammeh pergi meninggalkan Gambia menuju Guinea dan bermukim sementara di sana, untuk kemudian diyakini mengasingkan diri ke negara lain.

Bagaimana Yahya Jammeh dirayu, sehingga bersedia menyerahkan kekuasaan secara damai, tidak diketahui jelas. Pastinya, setelah Jammeh berulang kali menyatakan tidak bersedia melepaskan jabatan presiden dan berusaha mencari dukungan untuk mempertahankan kekuasaan, negara-negara yang tergabung dalam Uni Afrika menyatakan bersedia mengirimkan tentaranya ke Gambia untuk memaksa Jammeh turun dari singgasananya.

Kabar yang muncul menyebutkan, Jammeh memutuskan untuk melepas jabatannya setelah melakukan pembicaraan dengan presiden dari Guinea dan Mauritania.

Presiden Guinea Alpha Conde ada bersama Jammeh dan istrinya di dalam pesawat yang meninggalkan Banjul hari Sabtu malam (21/1/2017).

Dalam pidato yang disiarkan di televisi, Jammeh, yang pernah menyatakan akan memerintah Gambia selama miliaran tahun, mengatakan bahwa dirinya bersedia turun dari jabatannya dan “tidak perlu ada setetes darah pun yang tumpah.”

“Saya telah memutuskan hari ini dalam kesadaran yang baik untuk melepas jubah kepemimpinan negara besar ini dengan ucapan terima kasih tak terhingga kepada seluruh rakyat Gambia,” kata Jammeh.

Meskipun harus lebih dulu ditekan sana-sini, Yahya Jammeh adalah presiden pertama di Gambia yang menyerahkan kekuasaannya secara damai sejak negara itu merdeka dari Inggris di tahun 1965.

Barrow, yang berada di Senegal selama beberapa hari, dilantik sebagai presiden di Kedutaan Besar Gambia di negara tetangganya itu pada hari Kamis (19/1/2017).

Menyusul pengumuman hasil pemilu presiden akhir tahun lalu, sebenarnya Jammeh langsung menerima kekalahannya dan menyatakan akan menyerahkan kekuasaan dengan damai kepada penggantinya. Namun, entah mengapa kemudian dia berubah sikap, tidak mau mundur, berdalih proses pemilu tersebut dipenuhi kecurangan.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya GNPF MUI: Umat Islam jangan Dimusuhi dan Bukan Ancaman
Tulisan selanjutnya Lebih 1 Juta Wanita di AS dan Belahan Dunia Turun Jalan Anti Trump

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Berita
3 Juni 2026 12:08
Putin Tawarkan Pembebasan Utang Bagi yang Mau Gabung Tentara
Malaysia Resmi Batasi Media Sosial Anak, Siapkan Denda Rp45 Miliar bagi Pelanggar
Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?