Hidayatullah.com–Hari selasa ini, Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa penjajah Israel akan membayar harga mahal untuk sebuah konflik yang ditimbulkan akibat tindakan yang diberlakukan di pintu masuk Masjid Al-Aqsha di Palestina.
“Israel, yang tidak menghormati Masjid Aqsha dan Dome of the Rock, akan melihat dirinya menderita kerusakan paling banyak,” kata Erdogan, merujuk pada tempat suci umat yang paling dihormati Muslim sedunia di Kota Tua.
Sebelumnya, langkah Penjajah Israel memasang detektor logam di pintu masuk kompleks masjid pasca tewasnya dua petugas polisi Israel pada 14 Juli 2017 melahirkan perlawanan dan protes pemuda-pemuda Palestina.
Baca: Erdogan Kecam Pelarangan Akses ke Masjid Al-Aqsha, Desak Dunia Bertindak
Setelah menghadapi serangkaian protes hampir sepekan, akhirnya Penjajah Israel menghentikan pemasangan detektor logam di pintu Asbat, pintu utama menuju Masjid Al-Aqsha.
Hari Selasa, Kantor Perdana Menteri Israel melalui pernyataan mengatakan kabinet telah menerima proposal untuk menggantikan penggunaan detektor logam dengan alternatif lain, termasuk penggunaan kamera berteknologi tinggi.
Eskalasi perlawanan di Masjidil Aqsha meningkat, termasuk tewasnya tiga warga Israel dan syahidnya empat pemuda Palestina dalam bentrok hari Jumat dan Sabtu, meningkatkan alarm internasional dan menginisiasi Dewan Keamanan PBB untuk mengadakan pertemuan guna mencari cara untuk menenangkan situasi.
Baca: OKI Gelar Rapat Darurat Terkait Krisis Masjidil Al-Aqsha
Meski Israel memutuskan menghapus detektor logam dan menggantinya dengan alat pengintai “pintar”, warga Palestina tetap menolak langkah-langkah baru tersebut, menyerukan untuk kembali ke status quo sebelum 14 Juli.
“Saya telah mendengar keputusan Israel untuk menghapus detektor logam, dan saya harap sisanya akan mengikuti,” kata Presiden Erdogan kepada anggota parlemen dari Partai AK-nya. “Kami berharap Israel mengambil langkah untuk perdamaian di wilayah ini,” lanjutnya dikutip laman thestar.
Masjid Al-Aqsha, salah satu tempat tersuci Islam umat Islam sedunia dan merupakan simbol nasionalis bangsa Palestina, terus memicu perlawanan karena Yahudi Israel membangun kompleks pemujaan.
Panjajah Israel menganggap seluruh Yerusalem sebagai ibu kota abadi yang tak terpisahkan mereka, namun klaim ini tidak diakui secara internasional.
Bangsa Palestina terus berjuang dan menginginkan Palestina yang dicaplok Israel setelah perang 1967 agar menjadi ibu kota negara yang mereka cita-citakan.
Sementara itu, ketegangan terbaru di Palestina telah memicu protes di Turki. Media Turki mengatakan beberapa pemrotes menendang pintu dan melemparkan batu ke sebuah sinagog di Kota Istanbul.
Sementara itu, Presiden Erdogan meminta rakyatnya untuk tetap tenangan dan mengatakan bahwa menyerang tempat ibadah adalah “kesalahan besar”.
“Kami tidak memiliki masalah dengan rumah ibadah orang Kristen atau Yahudi. Kami telah mengambil tindakan yang diperlukan terhadap rencana penyerangan terhadap rumah-rumah ibadah dan kuil di negara kita,” katanya kepada anggota parlemen.
Erdogan juga mengatakan dia telah berbicara dengan Presiden Israel, Reuven Rivlin dan mengatakan kepadanya bahwa umat Islam yang pergi ke Masjid al-Aqsha tidak dapat diperlakukan layaknya teroris, sebagaimana Israel memasang detektor logam.
“Kami juga tidak bisa menerima orang Yahudi yang pergi ke sinagog dan kuil-kuil diperlakukan sebagai teroris,” katanya.*/Khawlah bint al-Azwar