Hidayatullah.com—Seorang politisi Kurdi di Turki terpaksa menggali lagi dan memindahkan makam ibunya setelah segerombolan massa mengusik ketenangan proses pemakamannya di Ankara.
Aysel Tugluk, yang sedang menjalani persidangan sebagai terdakwa terorisme, mendapatkan dispensasi untuk menghadiri pemakaman ibunya, Hatun, yang wafat pekan ini.
Pemakaman Hatun sengaja dilakukan malam hari guna menghindari kemungkinan konfrontasi. Namun, ternyata sejumlah massa pengunjuk rasa muncul dan meneriakkan seruan-seruan bernada ancaman kepada keluarga Tugluk, lapor Euronews Kamis (14/9/2017).
Oleh karena diancam jasad ibunya akan dibongkar, keluarga Tugluk akhirnya membuka kembali makam tersebut dan memindahkan jenazah untuk dikuburkan di kampung halamannya di Provinsi Tunceli.
Situs berita Turki Sozcu melaporkan bahwa sekitar 40-50 orang mengganggu prosesi pemakaman Hatun. Mereka menolak ibu Aysel Tugluk dimakamkan di sana dengan alasan di pemakaman itu terdapat kuburan seorang syuhada, dan teroris tidak pantas bersanding kuburnya dengan syuhada. Mereka juga beralasan kompleks makam itu bukan untuk orang-orang Armenia.
Aysel Tugluk adalah seorang politisi terkemuka anggota parlemen dari partai oposisi HDP, satu-satunya organisasi politik minoritas Kurdi yang dinyatakan legal oleh pemerintah Ankara. Dia kerap dituduh memiliki hubungan dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK), organisasi orang Kurdi di Turki yang dicap terlarang dan teroris oleh pemerintah Turki dan Uni Eropa. Terakhir politisi wanita itu ditangkap pada Desember 2016 dengan sejumlah tuduhan pidana, termasuk menyebarkan propaganda teroris.
Wakil Perdana Menteri Bekir Bozdag, yang merangkap jubir pemerintahan Erdogan, mengecam serangan massa itu.
“Penyelidikan hukum sedang dilakukan atas individu-individu yang terlibat dalam kejadian buruk ini. Mereka akan dituntut atas perbuatannya,” kata Bozdag.*