Hidayatullah.com—Petugas penilik sekolah akan menanyai pelajar-pelajar putri Muslim yang berkerudung di sekolah-sekolah dasar di Inggris, guna mengetahui mengapa mereka berekerudung dan memastikan bahwa mereka tidak dipaksa mengenakan pakaiam Muslimah itu oleh orangtua atau sekolahnya.
Alasan-alasan mengapa mereka mengenakan hijab akan dicatat dalam laporan sekolah, kata kepala penilik sekolah Amanda Spielman dalam pengumumannya hari Ahad (19/11/2017) seperti dilansir The Times.
Menurut hasil sebuah studi yang dirilis The Times bulan September lalu, sedikitnya 18 persen dari 800 sekolah dasar, yang disurvei di 11 daerah di seluruh Inggris, memperbolehkan hijab sebagai bagian dari seragam sekolah.
Sekolah dapat dianggap melanggar hukum kesetaraan, jika para siswi diharuskan mengenakan pakaian relijius sedangkan para siwa dibebaskan mengenakan pakaian apa saja yang mereka inginkan, kata Spielman.
Tindakan yang akan dilakukan petugas penilik ini, kata Spielman, dipicu oleh seruan wanita-wanita Muslim dan kelompok kampanye sekuler yang meminta agar diberlakukan larangan kerudung di sekolah-sekolah dasar. Para aktivis mengatakan kepada dirinya bahwa anak-anak perempuan seusia 4 tahun dipakaikan hijab pergi ke sekolah. Sebagian mengkhawatirkan meningkatnya penampakan hijab di ruang-ruang kelas bisa jadi merupakan tanda konservatisme Islam menyusup masuk ke dalam masyarakat Inggris.
Selain itu, ada kekhawatiran hijab di sekolah dasar bisa berujung pada seksualisasi anak-anak perempuan, sebab pakaian itu secara tradisional diwajibkan bagi anak perempuan Muslim yang sudah baligh sebagai tanda kesopanan di hadapan laki-laki, kata Spielman.
National Secular Society (NSS) akhir September merilis sebuah hasil studi, yang katanya menemukan bahwa dari lima sekolah Islam di Inggris, dua lebih di antaranya mewajibkan anak putri mengenakan hijab sebagai bagian dari seragam sekolah. Itu artinya, sebanyak 42 persen dari sekolah-sekolah Islam, termasuk di dalamnya 27 sekolah dasar, memiliki kebijakan seragam yang menyatakan bahwa hijab adalah keharusan.
Berdasarkan temuan itu, NSS kemudian menulis surat kepada Menteri Pendidikan Justine Greening untuk meminta agar pemerintah memastikan anak-anak perempuan berlatar belakang Muslim diberikan kebebasan untuk memilih dan bukannya dipaksa untuk mengenakan hijab.
“Pemaksaan atas seorang anak untuk mengenakan hijab, atau pakaian relijius apapun, sepenuhnya bertentangan dengan nilai-nilai fundamental Inggris dan, lebih luas, norma-norma hak asasi manusia terkait hak anak,” kata NSS berdalih.*