Hidayatullah.com–Organisasi amal Save the Children mengkonfirmasi bahwa dua anggota stafnya di Myanmar tewas dalam serangan dilakukan oleh militer.
Lebih dari 35 mayat, termasuk wanita dan anak-anak, ditemukan oleh milisi anti-junta di negara bagian Kayah.
Tentara memaksa orang-orang keluar dari mobil mereka, menangkap sebagian dan membunuh sebagian yang lain sebelum kemudian membakar tubuh mereka, kata organisasi itu.
Save the Children mengatakan dua stafmya ada di antara 35 orang yang tewas itu. Keduanya belum lama ini baru menjadi ayah dan mereka bekerja menggarap proyek bidang pendidikan untuk anak-anak. Mereka sedang dalam perjalanan pulang ke rumah untuk liburan, setelah melakukan kerja kemanusiaan.
Lewat Twitter, Save the Children menyeru Dewan Keamanan PBB agar melakukan pertemuan dan mengambil tindakan pelaku serangan tersebut, lansir BBC Selasa (28/12/2021).
Menyusul laporan perihal pembantaian itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken mengatakan militer Myanmar harus diminta pertanggungjawabannya. Dia juga menyeru agar diberlakukan larangan penjualan senjata kepada militer Myanmar.
Karenni National Defence Force, salah satu milisi terbesar yang menentang militer Myanmar, mengatakan bahwa korban tewas bukan anggota milisi melainkan orang sipil yang sedang mencari tempat perlindungan dari konflik.
Seorang juru bicara militer Myanmar mengatakan pertempuran telah pecah di Hpruso pada hari Jumat setelah tentara berusaha menghentikan tujuh mobil yang dikemudikan dengan “cara yang mencurigakan”, lapor AFP.
Tentara membunuh sejumlah orang dalam bentrokan yang menyusul kemudian, kata juru bicara Zaw Min Tun mengatakan kepada AFP hari Sabtu.
Foto-foto yang menunjukkan kerusakan setelah serangan di Hpruso itu beredar di media sosial, tampak sisa-sisa kendaraan yang habis terbakar.*