Hidayatullah.com—Tidak kurang 14 pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kongo meninggal dan lebih dari 53 orang lain terluka setelah pangkalan mereka diserang kelompok gerilyawan Kamis, (07/12/2017) waktu setempat.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan serangan yang terjadi di sebelah timur Republik Demokrasi Kongo dan menargetkan tentara asal Tanzania adalah kasus terburuk dalam sejarah dan dianggap sebagai bentuk kejahatan perang.
Kepala Misi PBB di Kongo, Maman Sidikou mengatakan, Misi akan mengambil tindakan, termasuk menyeret pelaku ke pengadilan.
“Serangan terhadap orang-orang yang bekerja dalam pelayanan perdamaian dan stabilitas di Republik Demokratik Kongo adalah tindakan pengecut dan merupakan pelanggaran serius,” kata Maman Sidikou, Wakil Khusus Sekretaris-Jenderal PBB di Negara itu kepada CNN, Jumat (08/12/2017). Misi PBB akan mengambil semua tindakan guna memastikan para pelaku yang bertanggung jawab dan diseret ke pengadilan.
Baca: PBB Beberkan Nama Negara Asal Anggota Pasukan Perdamaian Pelaku Pelecehan
Jean-Pierre Lacroix, Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Penjaga Perdamaian, menulis di akun twitternya @Lacroix_UN, PBB telah menambah pasukan bantuan menuju tempat kejadian, termasuk mengirim tim evakuasi medis.
Antonio Guterres menyampaikan rasa marah dan simpati kepada keluarga korban yang meninggal.
“Saya ingin mengungkapkan kemarahan dan kehancuran hati saya pada serangan semalam,” kata Guterres kepada wartawan di markas PBB di New York, dikutip Reuters, Sabtu (9/12/2017).
Sementara tiga penjaga perdamaian lainnya hilang setelah baku tembak yang terjadi selama tiga jam dan terjadi pada Kamis 8 Desember malam waktu setempat. Hal tersebut disampaikan oleh Ian Sinclair, direktur Pusat Operasi dan Krisis PBB.
PBB menengarai Pasukan Demokrasi Sekutu (Allied Democratic Forces/ADF), yang berbasis di Uganda sebagai kelompok yang bertanggungjawab atas peristiwa penyerangan markas Misi Perdamaian PBB di Kongo (MONUSCO) di Kota Semuliki.
Pasukan operasi penjaga perdamaian terbesar di PBB ini telah beroperasi sejak 2010.
Kelompok milisi bersaing mengendalikan bagian-bagian Kongo timur yang kaya akan mineral hampir satu setengah dekade setelah berakhirnya perang 1998-2003 yang menewaskan jutaan orang, yang sebagian besar meninggal karena kelaparan dan penyakit.
Di daerah ini sering terjadi konflik yang kabarnya dipicu oleh kekayaan cadangan mineral di bagian timur — khususnya emas dan mineral– yang digunakan dalam produk elektronik.
Beberapa milisi bersenjata berjuang untuk menguasai lahan kaya mineral di Kivu Utara dan sering bentrok dengan tentara Kongo dan pasukan penjaga perdamaian PBB.
Awal pekan ini, badan-badan bantuan mengatakan bahwa konflik telah memaksa 1,7 juta orang di Republik Demokratik Kongo untuk meninggalkan rumah mereka tahun ini.
Baca: PBB Akan Repatriasi Pasukan Perdamaian Pelaku Kejahatan Seksual
Direktur Dewan Pengungsi Norwegia di Kongo, Ulrika Blom, menggambarkan situasi tersebut sebagai “sebuah mega-krisis”.
Sebanyak 61 orang yang bekerja untuk PBB tewas sepanjang tahun 2014, meningkat dari 58 orang tahun 2013 dan 37 orang tahun 2012. Korban termasuk tentara penjaga perdamaian, 16 orang sipil, sembilan kontraktor dan tiga konsultan.
Sejumlah pegawai dan orang-orang terkait misi PBB lainnya juga ditahan, disandera dan diculik tahun lalu, kata serikat itu. Presiden serikat itu, Ian Richards, minggu lalu mendesak Majelis Umum PBB agar berbuat lebih banyak guna melindungi pegawainya yang menghadapi bahaya yang semakin besar.*