Hidayatullah.com–Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz Al-Saud, memerintahkan pengalihan $ 2 miliar atau sekitar Rp28,57 triliun ke Bank Sentral Yaman kemarin, dilansir dari Middle Eye Monitor (MEE).
Mata uang Yaman telah anjlok pada tingkat yang drastis sejak eskalasi perang sipil Yaman pada Maret 2015. Mata uang negara tersebut saat ini berada di 500 Riyal Yaman ke satu dolar.
Dalam pengumumannya, dana itu diberikan dalam rangka mengurangi penderitaan rakyat Yaman dan ‘membantu mereka untuk mengatasi beban ekonomi akibat penderitaan yang disebabkan oleh kejahatan dan pelanggaran milisi Syiah Houthi yang diukung rezim Iran’.
Pengalihan dilakukan setelah Presiden Abd Rabbuh Mansyur Hadi yang diakui secara internasional mengeluh kepada Pangeran Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman tentang kemerosotan ekonomi.
Juru bicara resmi kelompok pemberontak Syiah al Houthi, Mohammed Abdel Salem, menyalahkan mata uang yang jatuh pada “agresi” koalisi pimpinan-Saudi di Yaman.
“Mereka [Arab Saudi] memberlakukan pengepungan total terhadap orang-orang Yaman, memindahkan Bank Sentral dari Sana’a, memblokir kedatangan uang tunai ke Yaman, memberlakukan perwalian di sebagian besar pelabuhan Yaman dan benar-benar menghancurkan infrastruktur,” katanya.
Dua tahun yang lalu di bulan April dilaporkan bahwa pemberontak Houthi masuk ke markas besar Bank Sentral di ibu kota dan mencuri $ 107 juta.
Pemberontak Houthi juga telah menjarah kekayaan negara dan mengambil alih pendapatan badan-badan usaha milik pemerintah, termasuk menjual hasil olahan minyak bumi dan mengumpulkan kekayaan berbentuk mata uang riyal Yaman.
Baca: Mantan Presiden Yaman Saleh Tewas Dibunuh Pemberontak Houthi
Yaman telah sering menyaksikan perampokan bank pada tahun lalu, terutama di Yaman selatan. Tahun lalu di bulan Juli, sebuah kelompok bersenjata berseragam dari 10 penyerang menggerebek Bank Nasional Yaman.
Sejak Maret 2015 Arab Saudi telah memimpin sebuah koalisi negara-negara Arab sejak diundang oleh Hadi untuk menetralisir ancaman yang ditimbulkan oleh Houthi di Yaman tengah.
Huthi menguasai Ibu Kota Sana’a pada akhir 2014, dan juga mengendalikan pelabuhan Laut Merah Hudaydah yang strategis yang secara langsung mempengaruhi impor ke negara tersebut.*/Sirajuddin Muslim