Hidayatullah,com—Kementerian Perdagangan Yordanina (Jordan) hari Sabtu mengumumkan penghentian subsidi roti yang menjadi makanan pokok negara itu, langkah pertama yang pernah dilakukan selama dua dekade untuk mengurangi beban anggaran negara.
Aljazeera melaporkan bahwa harga per kilogram roti putih dinaikkan 100 persen dari 16 piaster menjadi 32 piasters (0,45 dolar AS). Sementara harga roti datar yang lebih kecil naik lebih dari 67 persen. Roti datar yang dikenal sebagai “tabun”, adalah makanan pokok yang selalu ada di meja makan orang berpenghasilan rendah Yordania, hargana naik 90 persen. Sedangan harga roti lainnya tetap tidak berubah.
Namun, harga untuk beberapa roti lain yang banyak digunakan oleh pertengahan Jordania tidak terpengaruh oleh pergerakan tersebut.
Pemerintah menggunakan mekanisme untuk menyeimbangkan dampaknya terhadap masyarakat miskin dengan menyalurkan bantuan tunai kepada mereka.
Menteri Perdagangan Yordania, Yarub Qudah mengumumkan harga baru pada sebuah konferensi pers yang diadakan pada tanggal 8 Januari, dengan alasan bahwa harga akan tetap sampai akhir tahun karena pemerintah memiliki penyimpanan gandum yang cukup.
Pemerintah mengatakan akan menghemat 50 juta dinar Yordania dalam bentuk subsidi setara dengan sekitar 120 juta dinar per tahun.
Yarub mengutip Jordan Times saat ditanyai langkah pemerintah untuk menyalurkan uang tunai kepada orang miskin menjelaskan bahwa pegawai negeri sipil yang menerima upah rendah akan menerima subsidi tunai dalam upah mereka.
Selain itu, Jordan Times mengatakan, warga negara yang memenuhi syarat juga bisa mendapatkan bantuan dengan melihat-lihat situs web pemerintah sementara mereka yang tidak memiliki rekening bank dapat merujuk ke bank yang ditunjuk pemerintah untuk mendapatkan bantuan.
Kenaikan tersebut merupakan yang pertama sejak 1996, sebuah langkah yang sempat membuat kemarahan publik setelah pemerintah harus mematuhi persyaratan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk melakukan pinjaman baru.
Baca: Mengemis di Ibukota Remaja Yordania Sehari Dapat 17 Juta
Langkah tersebut datang 10 hari setelah kabinet Yordania mengumumkan paket utama kenaikan pajak yang dipandu IMF yang dikatakan penting untuk secara bertahap menurunkan rekor hutang publik yang dibutuhkan agar ekonomi melanda konflik regional yang tumbuh kembali.
Untuk mendapatkan keuntungan dari pinjaman IMF, negara-negara seperti Tunisia, Mesir, dan Yordania harus mengurangi defisit anggaran mereka sehingga biaya hidup meningkat bagi warganya.
Sebagaimana diketahui, Yordania terpaksa menaikkan harga roti setelah menaikkan subsidi pokok demi memperbaiki ekonomi yang dililit utang.
Pada 2016, Yordania mendapatkan pinjaman tiga tahun senilai US$ 723 juta (sekitar Rp 9,6 triliun) dari IMF untuk mendukung reformasi ekonomi dan keuangan.*