Hidayatullah.com–Ribuan pencari suaka Afrika berkumpul di Kedutaan Besar Rwanda di Israel pada hari Rabu untuk memprotes rencana negara tersebut untuk mendeportasi atau memenjara para migran, lapor Al Bawaba, Rabu (07/02/2018).
Pemerintah penjajah Israel memberi para migran waktu 60 hari untuk menerima satu dari dua pilihan: meninggalkan negara tersebut untuk tujuan Afrika yang tidak disebutkan nama negaranya dengan imbalan $ 3.500 dan tiket pesawat atau dipenjara tanpa batas waktu.
Diyakini tujuannya adalah negara di Afrika timur, Rwanda, Jerusalem Post melaporkan.
Di depan Kedutaan Besar Rwanda, para pemrotes mendesak Rwanda dan presidennya, Paul Kagame, untuk tidak bekerja sama. Pengunjuk rasa memegang papan-papan berbunyi “Kagame, kami tidak untuk dijual,” dan meneriakkan “Kami adalah pengungsi – kami bukan penjahat” dan “Rwanda tak tahu malu.”
Para pemrotes juga mengecam negara Afrika tersebut karena menerima uang sebagai imbalan pengusiran mereka, sesuatu yang dibantah oleh duta besar Rwanda, Olivier Nduhungirehe.
“Jangan jual saya ke Rwanda,” seorang pria berusia 23 tahun memohon. “Tolong hargai kami dengan tidak menyebut kami sebagai penjahat. Kami adalah pengungsi yang datang ke Israel untuk mendapatkan perlindungan.”
Baca: PBB kepada Israel: Hentikan Rencana untuk Relokasi Migran Afrika
Pada hari Ahad, pihak berwenang Israel mulai mengeluarkan pemberitahuan deportasi kepada pencari suaka dari Eritrea dan Sudan, pada awalnya kepada mereka yang tanpa anak yang ingin memperbarui visa tinggal. Pemerintah Israel berencana untuk mulai melakukan penangkapan dalam waktu sekitar dua bulan.
Menteri Dalam Negeri Israel Arye Dery menulis di Twitter, “Berbeda dengan berita palsu, tidak ada bahaya bagi penyusup tenaga kerja yang kita usir ke negara ketiga.”
Beberapa pencari suaka yang sudah dikirim ke Rwanda mengklaim saat mereka tiba, dokumen mereka disita dan dipenjara.*/Abd Mustofa