Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Kenapa Orang Asia Sulit Dapat Visa Jerman?

Ama Farah
Terakhir diupdate: 26 Juni 2018 18:57 6:57 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 26 Juni 2018 18:57
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Analisis data oleh Deutsche Welle mengungkap bahwa mayoritas pemohon visa Jerman datang dari Asia. Sementara tingkat rata-rata keberhasilan lebih baik dibanding tempat lain seperti Afrika, satu dari sepuluh aplikasi dari Asia ditolak.

Setiap orang Asia yang harus mendapatkan visa jangka panjang untuk tujuan sekolah, bekerja atau reuni keluarga di Jerman mengerti kerepotan yang akan dihadapinya. Sebagian mengklaim bahwa beberapa tahun terakhir semakin sulit untuk memperoleh visa Jerman.

Seorang pemilik restoran masakan China di Jerman, tanpa bersedia disebutkan identitasnya, kepada DW mengatakan bahwa sejak lama dia ingin merekrut seorang pria tukang masak dari China, tetapi kesulitan mendapatkan visa untuknya. Aplikasinya sudah ditolak dua kali, kata pemilik restoran itu. Padahal orang yang sama beberapa tahun silam tidak menemukan kendala ketika mengajukan visa Jerman. Hal tersebut menurut si pemilik restoran karena adanya peraturan yang lebih ketat.

Akan tetapi, hal itu tidak dialami oleh lainnya, bahkan oleh sebagian orang China.

Seorang wanita yang bekerja sebagai manajer sumber daya manusia di sebuah perusahaan besar China mengatakan kepada DW bahwa dia selama bertahun-tahun menangani pengurusan visa kerja kolega-koleganya dan dia tidak pernah mengalami kesulitan.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

“Tidak terlalu sulit jika seseorang bekerja untuk perusahaan besar China,” ujar wanita itu seperti dikutip DW Jumat (22/6/2018).

Tingkat keberhasilan aplikasi visa beragam antara negara satu dengan lainnya. Sebagai contoh, satu lebih dari empat aplikasi dari Bangladesh ditolak, sedangkan aplikasi China yang ditolak hanya 1 dari 20. Bahkan setiap 100 aplikasi dari Jepang yang ditolak kurang dari satu.

Sulit untuk memastikan apa kendala yang menyebabkan aplikasi visa ditolak. Kantor Kementerian Luar Negeri Jerman tidak memberikan kesempatan kepada Deutsche Welle untuk melakukan wawancara terkait isu ini. Mereka hanya mengatakan bahwa keputusan diterima atau ditolaknya aplikasi visa tergantung kedutaan Jerman di masing-masing negara tuan rumah, berdasarkan kriteria yang sudah digariskan.

Pemohon harus memberikan penjelasan rinci tentang pendapatan mereka, guna memastikan bahwa pemohon memiliki kemampuan finansial yang cukup selama berada di Jerman, atau mereka harus menunjukkan ada orang lain yang pasti dapat menanggung seluruh biaya yang diperlukan selama berada di sana. Dalam kasus reuni keluarga, pemohon harus bisa membuktikan bahwa dia menikah atau memiliki hubungan kerabat dengan orang yang tinggal di Jerman.

Kemenlu Jerman menegaskan pihaknya tidak menginstruksikan kepada kedutaan untuk mempersulit atau memudahkan aplikasi visa dari suatu negara tertentu. Namun, diakui bahwa mereka sangat berhati-hati di negara yang banyak memiliki masalah pemalsuan dokumen. Beberapa negara yang pernah masuk daftar hitam antara lain Afghanistan, Bangladesh, India dan Pakistan. Akan tetapi negara China, Indonesia dan Iran tidak pernah dimasukkan dalam daftar hitam itu.

Peneliti masalah keimigrasian Jochen Oltmer meyakini bahwa penerimaan atau penolakan aplikasi visa sangat tergantung dengan faktor kebangsaan si pemohon. Selain itu, faktor situasi politik di negara asal si pemohon juga berpengaruh, kata profesor di Institute for Migration Research and Intercultural Studies di Universitas Osnabruck itu kepada DW.

Sementara Afrika pada umumnya di Jerman dipandang sebagai benua miskin, ketimpangan yang lebar, dan potensi migrasi sangat tinggi, Asia dipandang berbeda. Benua Asia dipersepsikan sebagai masa depan dan memiliki potensi ekonomi sangat besar.

Jerman misalnya, ingin memperbaiki caranya mengelola migrasi dari India dan China. Di Jerman, India memiliki reputasi sebagai negara dengan banyak ahli komputer, jenis keterampilan yang sangat dibutuhkan di Eropa.

China, dengan kekuatan ekonomi globalnya, sangat penting bagi Jerman. “Dalam kurun 10-15 tahun terakhir, kita melihat imigrasi pelajar China ke Jerman meningkat,” kata Oltmer, seraya menambahkan bahwa perkembangan itu sangat disambut baik di Jerman, sebab mahasiswa dipandang sebagai jembatan masa depan untuk bisnis dan sains.

Ketika ditanya apakah agama si pemohon visa berpengaruh, misal Muslim cenderung ditolak dan Buddhis diterima, Oltmer mengatakan bahwa agama individu tidak terlalu signifikan, melainkan lebih kepada situasi keagamaan secara umum suatu negara.

Oltmer mencontohkan Indonesia. Meskipun Indonesia merupakan negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, tetapi dipandang sebagai negara yang mempraktekkan Islam secara moderat, yang mana hal ini kemungkinan menjadi alasan kenapa tingkat penolakan visa dari negara ini cukup rendah, kata Oltmer.

Ada faktor selain agama yang juga dapat menyebabkan permohonan visa ditolak. Ambil contoh pengalaman Ester Sianturi. Wanita asal Medan ini mengajukan permohonan visa tahun 2016 untuk bekerja sebagai pengasuh anak di Jerman. Ester menjelaskan bahwa semua persyaratan sudah dilengkapinya, termasuk sertifikat bahasa Jerman level A1. Namun, hanya hitungan hari permohonannya ditolak. Dia tentunya sangat kecewa.

Setelah itu dia menerima surat dari kedutaan perihal alasan mengapa permohonan visanya ditolak. “Orangtua anak yang akan saya asuh adalah pasangan Jerman dan Indonesia. Syarat program pengasuh anak, kewarganegaraan keluarga majikan harus berbeda dengan saya,” kata Ester kepada DW.

Ester awalnya mengajukan banding atas keputusan kedutaan itu, tetapi tidak berhasil. Enam bulan setelah penolakan itu, dia mengajukan lagi permohonan visa bekerja sebagai pengasuh anak, hanya bedanya ayah dan ibu si anak sama-sama berkebangsaan Jerman. Ester pun berhasil mendapatkan visa kerjanya di aplikasi kedua itu.

Situasi keamanan di negara Afghanistan, minimnya kemampuan finansial pemohon visa untuk menjamin hidupnya di Jerman, sering dikutip sebagai alasan rendahnya jumlah aplikasi dari Afghanistan yang diterima.

Kapasitas kedutaan dan konsulat Jerman di negara terkait juga mempengaruhi proses pengurusan visa. Kedutaan yang lebih besar dengan jumlah staf yang banyak pastinya dapat memproses permohonan visa lebih cepat dibanding kedutaan dan konsulat yang lebih kecil.

Akan tetapi, Oltmer menampik pemikiran yang menyebutkan hal di atas dijadikan alat untuk mengontrol migrasi ke Jerman. Menurutnya, kondisi perekonomian, situsi politik dan keamanan negara si pemohon visa merupakan faktor yang lebih menentukan, di samping apakah Jerman tertarik atau tidak untuk menerima pendatang asing dari negara tertentu.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Presiden Ghana Karang Semua Pejabat Pemerintah Pergi ke Luar Negeri
Tulisan selanjutnya Video Kaki dari Kaleng Gadis Suriah Undang Rasa Iba

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Berita
31 Mei 2026 19:39
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?