Hidayatullah.com— Meski organisasi Daesh/ISIS mengklaim bertanggung jawab atas serangan parade militer Iran hari Sabtu, juru bicara Pasukan Revolusi Iran (IRGC) Ramezan Sharif menuduh pelaku didanai Arab Saudi.
“Serangan beberapa elemen kelompok al-Ahvaziya yang diberi makan oleh Arab Saudi, bertujuan untuk menutupi kemegahan pawai pasukan bersenjata Iran,” kata Ramezan Sharif melalui Kantor Berita Mahasiswa Iran (ISNA).
Sementara itu, Presiden Iran Hassan Rouhani menyalahkan Amerika Serikat (AS) yang dinilai terlibat serangan dalam parade militer di Kota Ahwaz yang menewaskan 29 orang dan melukai sekitar 70 orang lain.
“Semua negara kecil yang merupakan tentara bayaran yang kita lihat di kawasan ini didukung oleh Amerika. Amerika yang menghasut mereka dan memberi sarana yang diperlukan untuk melakukan kejahatan ini,” ujar Rouhani.
Baca: Jumlah Korban Tewas Serangan Menargetkan Pawai Militer Iran Bertambah
Selain menuduh AS, Hassan Rouhani juga menuduh negara-negara Teluk sekutu Amerika Serikat mendukung mereka yang berada di balik penembakan tetapi ia tidak menyebut nama-nama negara.
Pemimpin Tertinggi Syiah Ayatollah Ali Khamenei juga menuding Amerika Serikat berada di balik serangan itu dengan mengatakan para pelaku merupakan ulah ‘boneka-boneka Amerika Serikat’ yang mencoba ‘menciptakan ketidakamanan” di Iran.
Gerakan Perlawanan Islam Lebanon Hizbullah dalam statemennya mengutuk serangan teror di Ahvaz barat daya Iran.
Seperti dilaporkan al-Alam, milisi bersenjata Syiah ini mengucapkan bela sungkawa kepada pemerintah dan rakyat Iran sambil menuduh, di balik aksi teror ini ada tangan-tangan setan dan bengis yang ingin merusak keamanan dan stabilitas Iran.
“Kejahatan ini adalah reaksi langsung dan tranparan atas kemenangan besar yang diraih kubu muqawama di kawaasan dan di berbagai front,” papar Hizbullah.
Sebagaimana diketahui, sejumlah pria yang menyamar sebagai tentara elit Iran, ICRG, hari Sabtu (22/09/2018) menembaki parade militer tahunan di bagian barat daya yang dikenal kaya minyak itu. Serangan ini adalah yang paling menelan banyak korban jiwa dalam hampir sepuluh tahun. Diantara tentara-tentara Garda Revolusioner Iran yang tewas itu juga terdapat perempuan dan anak-anak yang sedang menonton parade tersebut.
Insiden itu bermula ketika empat pelaku melepaskan tembakan membabi buta di tengah parade militer yang digelar untuk memperingati Perang Iran-Iraq pada 1980-1988.
Suasana seketika kacau balau. Para tentara merangkak sembari mencari sumber tembakan, sedangkan perempuan dan anak-anak berlarian menyelamatkan diri.
Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Nikki Haley, menepis tuduhan Presiden Iran, Hassan Rouhani, bahwa Washington dan negara-negara Teluk sekutunya terlibat dalam serangan berdarah dalam parade militer di Ahvaz, Iran selatan.
Nikki Haley mengatakan kesalahan sepenuhnya berada di tangan otoritas Iran dan serangan terjadi karena rakyat Iran sudah muak ditindas.
“Ia (presiden Iran) perlu melihat ke dalam untuk mengetahui dari mana asal serangan itu. Saya pikir rakyat Iran sudah muak,” kata Nikki Haley, Ahad (23/09/2018) dikutip BBC.
Baca: Mengapa Rusia dan Iran Menghindari Perang dengan Israel
Setelah kejadian, Iran hari Ahad (23/09/2018) memanggil diplomat-diplomat Inggris, Denmark dan Belanda untuk dimintai keterangan karena diduga menyembunyikan apa yang dia sebut “anggota kelompok teroris’’ yang melancarkan serangan itu.
Media dan pejabat negara menyalahkan militan Sunni atau nasionalis Arab.
Ahvaz adalah salah satu kota tempat berlangsungnya protes besar menuntut pemerintah atas standar hidup yang menurun pada akhir tahun lalu.
Sebelumnya, melalui situs Amaq, Daesh mengklaim bahwa Presiden Iran Hassan Rouhani menghadiri parade militer yang ditargetkan. Namun situs web itu belum mengunggah rekaman atau video serangan itu.*