Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Oase Iman

Dua Macam Ulama Perspektif al-Qur`an

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 24 September 2018 13:34 1:34 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 24 September 2018 13:34
Bagikan
Bagikan

DALAM al-Qur`an, kata ‘ulamā’ yang merupakan bentuk plural dari kata ‘ālim’ disebutkan sebanyak dua kali. Ulama pertama terdapat dalam surah Fathir [35] ayat 28; sedangkan yang berikutnya terdapat dalam Surah asy-Syu’ara [26] ayat 197.

Dari kedua macam itu, bisa dikategorikan dua macam ulama berdasarkan perspektif al-Qur`an: Pertama, ulama Rabbani. Yang murupakan ulama yang patut diteladani. Kedua, ulama Sū` (buruk) yang harus dijauhi perangainya.

Ulama Rabbani

Mengenai ulama jenis pertama, pembaca bisa membaca ayat berikut:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Baca Juga

Masihkah Bisa Tersenyum Saat Al-Aqsha Terjajah?
Khutbah Jum’at: Saat Masjid Al-Aqsha Ternoda, Apa Masih Ada Nyala Iman di Dada?
Khutbah Jum’at: Ramadhan Berlalu, Amal Tetap Kontinu
Khutbah Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual
Khutbah Jumat: Mengisi Rajab dengan Muhasabah, Amal dan Puasa

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama . Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir [35]: 28)

Baca: Karakter Ulama Su’ dan Fitnah Akhir Zaman

Pada ayat ini, yang disebut ulama adalah hamba-hamba Allah yang keilmuan yang dimilikinya membuatnya ‘khasyah’ (takut) kepada Allah. Takut di sini berbeda dengan kata ‘khauf’ yang biasa diterjemahkan dengan takut.

Syeikh Mannā’ al-Qaṭṭān dalam buku “Mabāhits fī ‘Ulūm al-Qur`ān” (2000: 207) menerangkan perbedaannya. Takut (khasyah) lebih tinggi tingkatannya daripada takut (khauf). Khasyah, rasa takut yang timbul akibat keagungan yang ditakuti, meski yang takut adalah orang kuat. Dengan kata lain, rasa takut yang disertai pengagungan.

Sementara rasa takut khauf,  timbul karena lemahnya orang yang takut. Meski yang ditakuti sebenarnya adalah perkara remeh. Di sisi lain, huruf dari kata ‘khasyah’ (kha, syin, ya) berdasarkan timbangan ilmu Sharaf menunjukkan keagungan. Karena itu, tidak mengherankan jika kata ini pada galibnya (umumnya) terkait dengan Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana yang terdapat dalam surah Fathir ayat 28 dan Al-Ahzab ayat 39.

Dengan demikian, ulama seperti ini adalah ulama yang keilmuannya mengantarkannya pada rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala disertai pengagungan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Takutnya mereka kepada Allah, membuat semakin mendekat dan mengagungkan-Nya. Bukan seperti takutnya orang yang dikejar singa, misalnya.

Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam “Ihyā` ‘Ulūm al-Dīn” (I/77) mengkategorikan ulama semacam ini sebagai “Ulamā al-Ākhirah” (ulama akhirat) yang kata beliau, selain ‘khasyah’ (rasa takut) juga diikuti ciri lain berupa: khusyuk, tawaduk (rendah hati), berkahlak mulia serta  memprioritaskan akhirat daripada dunia (zuhud).

Selain khasyah, ulama jenis ini –yang disebut Ali bin Abi Thalib sebagai ‘Ālim Rabbāny’ (ulama Rabbani)—adalah ulama yang mengorientasikan kehidupan dunia-akhirat mereka kepada Allah, Rab Semesta Alam.

Allah sendiri, salah satu asma-Nya adalah “al-‘Ālīm” yang biasa diartikan Maha Mengetahui (Luas Ilmu-Nya). Maka, sudah menjadi keniscayaan bagi ulama dengan tipe demikian untuk menyandarkan keilmuan dan orientasi hidupnya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Bukan untuk kepentingan dunia yang fana. Betapa hebat pun keilmuan yang dimiliki, mereka sadar bahwa, “Di atas setiap orang yang punya ilmu, ada Allah Yang Maha Berilmu.” (QS. Yusuf [12]: 76)

Lebih jauh dari itu, jika Allah yang menjadi orientasi, ulama bisa belajar pada pasangan Asmaul Husna yang digandeng dengan nama al-‘Ālīm. Dalam al-Qur`an pasangan dari nama al-‘Ālīm, sebagai berikut: Wāsi’un ‘Ālīmun (2:115), Syākirun ‘Ālīmun (2:158), Samīun ‘Ālīmun (2: 181), Ālīman Hakīman- Hakīmun Ālīmun (4: 11 & 6: 83), Ālīmun Halīmun (4: 12), Ālīman Khabīran (4: 35) dan Ālīmun Qadīr (16: 70).

Berdasarkan pasangan-pasangan itu –menurut tadabbur penulis—yang dinamakan ulama, selain berilmu dan takut kepada Allah, dia juga semestinya adalah figur yang mimiliki keluasan (baik ilmu, wawasan, jiwa dan hal positif lainnya), pandai bersyukur (berterimakasih), pendengar yang baik, bijaksana, santun (pandai mengontrol diri, tak gampang emosi), memiliki keahlian (pengetahuan dan pengalaman mumpuni), dan memiliki kapasitas kemampuan.

Baca: Ulama Akhirat dan Ulama Dunia 

Ulama Sū`

Mengenai ulama model selanjutnya, Allah berfirman:

أَوَلَمْ يَكُن لَّهُمْ آيَةً أَن يَعْلَمَهُ عُلَمَاء بَنِي إِسْرَائِيلَ

“Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?” (QS. Asy-Su’ara` [26]: 197)

Dalam al-Qur`an ada beberapa ciri yang menunjukkan bahwa ulama Bani Israil –pada galibnya—  adalah ulama Sū` (buruk) yang tak patut diteladani. Bahkan termasuk kebanyakan dari Bani Israil sendiri juga memiliki ciri-ciri demikian.

Berikut ini adalah di antara ciri-cirinya: Pertama, menyembunyikan kebenaran (QS. Al-Baqarah [2]: 146). Kedua, menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah (QS. Ali Imran [3]: 187). Ketiga, mengingkari kebenaran yang diyakini (QS. Al-Baqarah [2]: 89). Keempat,  mendistorsi ayat-ayat Allah untuk kepentingan diri sendiri (QS. An-Nisa [4]: 46). Kelima, memanipulasi kebenaran demi mendapatkan keuntungan duniawi yang sedikit (QS. Al-Baqarah [2]: 79).

Sebenarnya masih banyak sifat lain seperti, mencampuradukkan antara yang haq dan batil; suka menyalahi janji; tidak takut kepada Allah; menyuruh orang berbuat baik tapi melupakan diri sendiri; berhati keras; suka menyuruh berbuat munkar dan melarang berbuat baik; terlalu materialistik dan ciri negatif lainnya yang menunjukkan mereka adalah ulama Sū` yang tak pantas diteladani.

Demikianlah dua model ulama dalam perspektif al-Qur`an yang bisa dihayati ciri-cirinya. Mudah-mudahan, umat tidak salah pilih dalam menentukan ulama yang diteladani di akhir zaman ini yang penuh dengan ulama fitnah.*/Mahmud Budi Setiawan

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Al Qur’analimkhasyahkhauftakutulamaulama rabbaniulama su'
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Iran Salahkan Saudi dan AS dalam Serangan Mematikan dalam Parade Militer
Tulisan selanjutnya Erdogan: Turki Gunakan 65 Persen Produk Dalam Negeri untuk Operasi Pertahanan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Pengadilan Kenya Tolak Rencana Amerika Serikat untuk Mendirikan Fasilitas Karantina Ebola di Negaranya

Berita
30 Mei 2026 11:16
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram
Penjajah ‘Israel’ Luncurkan Serangan Skala Besar ke Lebanon Selatan
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Oase Iman

Khotbah Jumat: Islam Menentang Aksi Premanisme

8 Mei 2025 13:08
Oase Iman

Khutbah Jumat: Hormat kepada Ulama, Santun kepada Sesama

24 April 2025 18:21
Oase Iman

Khutbah Jumat: Waspadai Faktor Penggagal Fatwa Jihad PalestinaL: Diri Kita Sendiri!

11 April 2025 07:28
Oase Iman

Khutbah: Idul Fitri dan Momentum Merajut Persaudaraan Sesama Umat Islam

30 Maret 2025 22:00
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?