Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Migran Baru di Australia Dilarang Tinggal di Kota Sydney dan Melbourne

Ama Farah
Terakhir diupdate: 10 Oktober 2018 06:36 6:36 am
Ama Farah
Dipublikasikan 10 Oktober 2018 06:36
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Pemerintah Australia mengungkapkan perihal usulan mereka untuk memaksa para migran baru untuk tinggal di luar kota Sydney dan Melbourne.

Kebijakan itu ditujukan untuk mengurangi kemacetan di dua kota terbesar di Australia tersebut, sambil meramaikan daerah sekitarnya, kata Menteri Kependudukan Alan Tudge hari Selasa (9/10/2018) seperti dilansir BBC.

Untuk kepentingan tersebut, pemerintah kemungkinan akan memberlakukan persyaratan di mana para migran boleh tinggal sampai lima tahun, kata Tudge.

Namun, sebagian pakar mempertanyakan bagaimana ide tersebut akan dilaksanakan dan sepertinya tidak akan dapat mencapai tujuan yang dimaksudkan.

Sekarang ini, sekitar dua perlima dari 25 juta penduduk Australia tinggal di wilayah Sydney dan Melbourne.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Menurut laporan Bank Dunia, tahun lalu pertumbuhan populasi Australia menempati peringkat 77 secara global dengan kenaikan 1,6%. Itu termasuk tinggi di kalangan negara-negara yang tergabung dalam OECD.

Pertambahan jumlah penduduk itu kebanyakan didongkrak oleh migrasi, yang mana sebagian besar pendatang asing memilih tinggal di kota Melbourne, Sydey atau Queensland, kata perintah.

Hal tersebut menambah beban dan kemacetan terhadap infrastruktur, dengan perkiraan Melbourne dan Sydney masing-masing akan dihuni oleh lebih dari 8 juta orang pada tahun 2030.

“Menempatkan sedikit lebih banyak para migran baru di negara-negara bagian dan daerah yang lebih kecil dapat mengurangi tekanan cukup signifikan terhadap kota-kota besar kita,” kata Tudge, dalam pidato hari Selasa.

Usulan tersebut belum memaparkan bagaimana kebijakan itu akan diimplementasikan, tetapi dimisalkan pemberian visa akan disertai “persyaratan geografis” di mana pemohonnya boleh tinggal selama di negeri kangguru itu setidaknya selama beberapa tahun.

Tudge mengatakan bahwa insentif-insentif lain juga akan diberikan sehingga para migran bersedia tetap tinggal di daerah yang ditetapkan secara permanen.

Sejumlah pakar keimigrasian dan kependudukan mengatakan kepada BBC bahwa kebijakan semacam itu tidak akan berhasil untuk mengurangi kemacetan di kota-kota besar.

“…Jika pemerintah akan mengarahkan para imigran baru ke daerah semak-semak, maka harus tersedia lapangan pekerjaan yang cukup bagi mereka, dan itu akan menjadi batu ganjalan besar terhadap keseluruhan ide itu,” kata Prof Jock Collins dari University of Technology.

Prof Peter McDonald, pakar demografi dari universitas Melbourne, mengatakan bahwa masalahnya bukan sekedar migrasi.

“Di Australia, pertambahan penduduk kecepatannya melebihi infrastruktur, kita lambat dalam penyediaan sistem yang memadai seperti jaringan transportasi publik yang dibutuhkan untuk kota-kota besar,” ujarnya.

Meskipun demikian, kata Prof Collins, hasil penelitian menunjukkan bahwa para migran bisa bertahan hidup di komunitas yang lebih kecil dan mendapatkan pekerjaan di sana.

“Kebanyakan dari mereka benar-benar senang tinggal di daerah semak (baca:pedesaan), dan mereka mengatakan bahwa mendapatkan sambutan hangat,” kata Prof Collins.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Dinilai Pelarangan Atlet Judo Berjilbab Semestinya Bisa Dihindari
Tulisan selanjutnya Pengadilan Perintahkan Larangan Parsial di Berlin untuk Kendaraan Diesel

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Berita
3 Juni 2026 09:20
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Kazakhstan Menawarkan Diri untuk Menyimpan Cadangan Uranium Iran

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?