Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Duka Selimuti Memorial Park Saat Pemakaman Korban Teror Masjid Selandia Baru

Ahmad
Terakhir diupdate: 21 Maret 2019 11:40 11:40 am
Ahmad
Dipublikasikan 21 Maret 2019 11:40
Bagikan
Suasana pemakaman korban teror Masjid an Noor dan Masjid Linwood
Bagikan

 Hidayatullah.com–Ratusan pelayat hari Rabu, 20 Maret 2019, berkumpul di komplek pemakaman di dekat Linwood Islamic Centre di Christchurch, salah satu dari dua tempat ibadah yang sasaran serangan teroris yang menewaskan 50 jemaah shalat Jumat.

Suasana duka menyelimuti  Memorial Park di Christchurch, Selandia Baru, ketika enam jenazah  mulai dimakamkan dikuburkan  dekat Masjid Linwood sejauh ini. Termasuk pengungsi Suriah, Khalid Mustafa (44), dan Hamza yang berusia 15 tahun.

Junaidi Ismail (36),  Ashraf Ali dan dua korban lagi namanya tak dikenal  juga dimakamkan dalam acara tersebut dengan ditemani oleh banyak penyunjung untuk membantu membawa dan mengubur jenazah ke tempat peristirahatan perakhir.

Putra Khalid, yang terluka dalam insiden itu, Zaid (13), juga duduk kursi roda dan melakukan doa  untuk almarhum ayah dan saudara lelakinya.

“Aku tidak seharusnya berdiri di depanmu, aku seharusnya berbaring di sebelahmu,” kata Zaid di makam ayah dan kakaknya.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Baca: ‘Khilafah Utsmani dan Perang Salib’, Pesan Teror Brenton Tarrant

Pelayat berbaris untuk membantu mengisi liang lahat dengan tanah menggunakan tangan mereka setelah jenazah korban diletakkan untuk beristirahat. Orang-orang diminta untuk tidak menggunakan sekop untuk memastikan semua orang mendapat bagiannya.

Pelayat menggambarkan kesedihan emosional yang dialami oleh semua orang di upacara hari Rabu (20/3).

“Semua orang berduka dengan cara yang tidak bisa kami jelaskan,” Gulshad Ali, yang melakukan perjalanan dari Auckland untuk menghadiri pemakaman itu, mengatakan kepada Aljazeera. “Saya merasa hancur, secara emosional saya terguncang melihat jenazah-jenazah dimakamkan.”

Imam Mohamed Aljibaly dari Pusat Islam Australia, mengatakan, keluarga itu melarikan diri dari perang delapan tahun yang berlarut-larut di Suriah, tetapi akhirnya mereka terbunuh di  negara teraman di dunia.

“Mereka adalah ayah dan anak, saudara lelaki Suriah yang lolos dari perang dan pembunuhan yang terjadi setiap hari tetapi terbunuh di Selandia Baru yang dianggap sebagai rumah baru,” katanya dikutip AFP.

Putra Khalid, yang terluka dalam insiden itu, Zaid (13), juga duduk kursi roda dan melakukan doa untuk almarhum ayah dan saudara lelakinya

“Ada ayah dan anak. Dia adalah saudara kami dari Suriah dan dia melarikan diri dari apa yang terjadi di Suriah setiap hari, dan pembantaian yang terjadi di sana hampir setiap hari, hanya untuk meninggal di Selandia Baru, tempat yang dia anggap sebagai rumah barunya karena dia adalah seorang pengungsi,” kata Aljibaly.

Baca:  Teror Masjid Selandia Baru Akibat Usaha Adu Domba Antar Agama

Perdana Menteri Ardern mengatakan dia sangat sedih mendengar berita bahwa keluarga Mustafa dari Suriah telah terbunuh di peristiwa “mengerikan” yang terjadi hari Jumat (15/3).

“Saya tidak bisa mejelaskan sulitnya mengetahui bahwa ada keluarga yang datang ke sini untuk mendapatkan keselamatan dan perlindungan, dan mereka seharusnya aman di sini … Ini adalah rumah mereka,” kata Ardern kepada Aljazeera saat konferensi pers di kantor polisi Christchurch Central.

Pemimpin Selandia Baru itu sebelumnya mengunjungi SMA Cashmere Christchurch, tempat Hamza belajar.

“Saya mendengar kesedihan mereka, (dan) saya turut merasakannya,” katanya.

Sementara itu, polisi dalam sebuah pernyataan mengatakan pihak berwenang telah mengidentifikasi 27 mayat dan akan menyerahkannya kepada keluarga mereka hari ini.

Baca:  Dubes Australia: Teror di Selandia Baru Bertentangan dengan Agama

Kegagalan pihak berwenang untuk mempercepat proses mengidentifikasi mereka yang telah meninggal semakin menambah kesedihan masyarakat, terutama keluarga para korban.

Kepolisian Selandia Baru pada Rabu menyebutkan identitas enam korban penembakan di Masjid An Noor.

Pimpinan kepolisian sermpat, Komisaris Mike Bush mengatakan 21 mayat telah selesai diidentifikasi dan sudah diserahkan kepada keluarga. Pemeriksaan post-mortem terhadap 50 jenazah sudah selesai, kata polisi.

Tetapi beberapa keluarga menyatakan frustrasi dengan proses identifikasi yang beberapa kali tertunda. Mohamed Safi, 23 tahun, yang ayahnya Matiullah Safi meninggal akibat serangan di Masjid Al Noor, mengeluhkan kurangnya informasi.

Dia mengatakan kepada kantor berita AFP: “Mereka hanya mengatakan bahwa mereka sedang melakukan prosedur mereka … Mengapa saya tidak tahu apa yang dilakukan mereka dalam mengidentifikasi jenazah?”

Baca:  [Update] 50 Orang Meninggal Korban Teror di Masjid Selandia Baru

Imigran

Dalam sebuah pernyataan pada Selasa, polisi mengatakan: “[Kami] sangat menyadari frustrasi oleh keluarga dengan lamanya waktu yang diperlukan untuk proses identifikasi setelah serangan teror Jumat.

“Kami melakukan semua yang kami bisa lakukan, dan secepat mungkin kami akan menyerahkan jenazah korban kepada orang-orang yang mencintainya,” ujarnya dikutip BBC.

Layanan imigrasi Selandia Baru mengatakan terus dan akan memproses visa bagi keluarga para korban yang ingin datang dari luar negeri untuk menghadiri pemakaman.

Perdana Menteri (PM) Selandia Baru Jacinda Ardern menyerukan perjuangan global untuk membasmi ideologi rasis sayap kanan menyusul serangan mematikan pekan lalu di dua masjid di Kota Christchurch.

Baca:  Selandia Baru: Serangan di masjid adalah momen dampak atas politik kejahatan

Dalam salah-satu wawancara pertamanya sejak tragedi itu, dia mengatakan kepada BBC bahwa dia menolak gagasan yang menyebut bahwa kehadiran migran telah memicu rasisme.

“Tapi saya akan menyerukan perjuangan global,” tambahnya.

“Apa yang terjadi di Selandia Baru adalah kekerasan yang dibawa oleh seseorang yang tumbuh dan belajar ideologinya di tempat lain.

“Jika kita ingin memastikan secara global bahwa kita adalah dunia yang aman dan toleran serta inklusif kita tidak dapat memikirkan hal ini dalam konteks perbatasan.”

Dia membela kebijakan negaranya yang menerima pengungsi, dengan mengatakan: “Kami adalah negara yang ramah,” katanya kepada BBC.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ChristchurchMasjid an NoorMemorial ParkpemakamanSelandia Baruteror
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Utamakan Akhlak, Muliakan Tamu
Tulisan selanjutnya Kāfir Dzimmī atau Warga Negara?

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Berita
3 Juni 2026 09:20
Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei

Terbaru

  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?