Hidayatullah.com–Perdana Menteri ‘Israel’, Benyamin Netanyahu melakukan kunjungan ke Washington guna membahas Dataran Tinggi Golan.
Presiden AS Donald Trump tentang pengakuan kedaulatan ‘Israel’ atas Dataran Tinggi Golan, demikian pernyataan Netanyahu dikutip Xinhua.
Netanyahu mengatakan pertemuan dengan Trump akan fokus pada Dataran Tinggi Golan, sebuah wilayah yang direbut ‘Israel’ dari Suriah pada tahun 1967 dan kemudian dianeksasi dalam tindakan yang tidak pernah diakui secara internasional.
Dalam konferensi pers di Bandara Ben Gurion, Sabtu malam (23/03/2019) Netanyahu mengatakan, kunjungan ke Washington tersebut sangat penting bagi ‘Israel’.
“Saya akan membahas dengan Presiden Donald Trump situasi terakhir di Dataran Tinggi Golan dan Suriah serta langkah-langkah menekan Iran.”
Baca: Akui ‘‘Israel’’ Mencaplok Dataran Tinggi Golan, AS Dikecam Dunia
Netanyahu juga mengatakan juga akan membahas kerjasama di bidang keamanan dan intelejen antara AS dan ‘Israel’.
Netanyahu dan Trump dijadwalkan bertemu di Gedung Putih untuk rapat kerja pada hari Senin ini. Trump juga akan menjamu Netanyahu untuk makan malam pada hari Selasa, menurut pernyataan Gedung Putih minggu lalu.
Sementara itu, pemerintah Suriah mengecam pernyataan Donald Trump, soal usul untuk mengakui wilayah Dataran Tinggi Golan menjadi milik ‘Israel’. Mereka berjanji bakal merebut kembali kawasan itu dengan segala cara.
“Bangsa Suriah akan berusaha membebaskan tanah yang berharga ini dengan segenap cara,” demikian pernyataan yang disiarkan Kantor Berita Suriah, SANA, seperti dikutip Reuters, Jumat (22/03/2019).
Baca: Trump Akan Akui Pencaplokan Dataran Tinggi Golan oleh ‘‘Israel’’
Rusia dan Iran yang merupakan sekutu Suriah juga mengecam pernyataan Trump soal Dataran Tinggi Golan. Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan sikap Trump sama saja melanggar keputusan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Sebelumnya, Trump menyatakan hendak mengakui Dataran Tinggi Golan, yang merupakan wilayah sengketa, menjadi milik ‘Israel’. Kawasan itu diduduki oleh penjajah ‘Israel’ pada Perang Enam Hari 1967 dan dicaplok dari Suriah pada 1981.
“Setelah 52 tahun kini saatnya untuk Amerika Serikat mengakui kedaulatan ‘Israel’ atas Dataran Tinggi Golan, yang mana penting bagi strategi dan keamanan ‘Israel’ serta kestabilan kawasan,” cuit Trump melalui akun Twitter.
Namun dunia tidak mengakui pencaplokan ‘Israel’ atas Dataran Tinggi Golan.
“Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sangat jelas menyatakan Dataran Tinggi Golan adalah wilayah Suriah. Dan aspek paling awal dalam resolusi 2254 adalah pengakuan wilayah Suriah,” kata Perwakilan Khusus PBB untuk Suriah, Geir Pedersen.
Meski ditentang internasional, ‘Israel’ gencar membangun permukiman ilegal di lokasi tersebut. Hingga saat ini terdapat 30 permukiman ilegal ‘Israel’ di Golan. 20.000 warga ‘Israel’ tinggal disana. Selain itu, 20.000 warga Suriah juga bermukim di Golan, sebagian besar dari mereka adalah sekte Druze.
Dataran Tinggi Golan berada 50 km dari kota Ibu Kota Suriah, Damaskus. Wilayah Jabal Syaikh yang berada 2800 meter diatas permukaan laut adalah wilayah yang sangat strategis dan merupakan sumber air utama untuk ‘Israel’
Air hujan yang turun di Dataran Tinggi Golan mengalir air ke sungai Jordania yang menyuplai 1/3 kebutuhan air di ‘Israel’.
Wilayah tersebut juga merupakan wilayah subur. Berbagia jenis pohon, seperti apel dan anggur tumbur subur disini. Hingga saat ini Pemerintah Suriah masih berupaya merebut kembali wilayah Golan.*