Hidayatullah.com–Uni Afrika mengecam Prancis karena memasok senjata untuk kelompok-kelompok pemberontak Libya, sehingga membuat situasi negara itu semakin berbahaya.
Ketua Komisi Uni Afrika Jean Ping kepada BBC mengatakan, mempersenjatai pemberontak akan menciptakan masalah seperti yang terjadi di Somalia, di mana negara itu bertahun-tahun terjebak dalam konflik dan perang.
“Ada beberapa masalah,” katanya. “Resiko perang saudara, resiko perpecahan negara, resiko menjadikan negara itu seperti Somalia, resiko karena senjata ada di mana-mana … terorisme.”
Prancis telah mengkonfirmasi laporan yang menyebut bahwa mereka mengirimkan senjata beserta amunisinya dalam jumlah besar pada awal Juni ini ke para pemberontak Libya yang akan menyerang Tripoli.
Jurubicara militer Prancis Thierry Burkhard kepada Reuters mengatakan awalnya mereka mengirimkan pasokan makanan kepada warga karena situasi semakin memburuk. Namun bersamaan itu pula Prancis memberikan senjata dan amunisinya.
Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang memberikan mandat operasi militer udara di Libya kepada NATO untuk melindungi rakyat sipil, tidak memperbolehkan adanya pemberian senjata.
Keputusan bantuan ini diambil setelah Presiden Nicolas Sarkozy bertemu dengan Panglima Pasukan pemberontak Libya, Jenderal Abdelfatah Younis.
Sebagaimana dilansir BBC (30/6), menurut beberapa pengamat, tindakan Prancis tersebut telah melanggar embargo senjata atas Libya oleh Dewan Keamanan PBB. Terlebih menurut koran Prancis Le Figaro, negara itu tidak memeberitahukan keputusan pengiriman senjata itu kepada anggota NATO lainnya.
Namun, Amerika Serikat yang getol ingin menghabisi Muammar Qadhafi membenarkan tindakan Prancis itu. Katanya, resolusi nomor 1973 menganulir resolusi 1970 yang mengamanatkan embargo senjata untuk seluruh Libya.*
Keterangan foto: Seorang pemberontak Libya bersenjata mengusung bendera negara Prancis di Benghazi 24 Maret 2011.[getty]