Hidayatullah.com—Salah satu skandal yang berputar di sekitar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menarik perhatian pihak berwenang di Jerman, yang bergerak menyelidiki kemungkinan penggunaan uang pajak rakyat Jerman untuk menyuap para pejabat Israel.
Pihak kejaksaan negara bagian di Bochum mengkonfirmasi kepada DW bahwa mereka sudah memulai penyelidikan dugaan suap dalam kesepakatan jual-beli tiga kapal selam kelas “Dolphin” dan empat kapal korvet (kapal perang kecil) dari pabrikan Jerman ThyssenKrupp Marine Systems ke militer Israel. Kesepakatan itu disetujui oleh pemerintah Jerman pada Juli 2017.
Pihak kejaksaan dalam sebuah email mengatakan bahwa setelah mereka menelaah laporan-laporan media, investigasi atas sejumlah orang tak dikenal telah dimulai. Namun, kejaksaan menolak memberikan penjelasan lebih lanjut, lapor DW Selasa (26/3/2019). Pihak berwenang Jerman sebelumnya hanya “mengamati” kasus tersebut.
Kepolisian Israel, yang sudah menyelidiki “Kasus 3000” selama lebih dari dua tahun, mengajukan dakwaan suap atas enam individu pada bulan November 2018. Mereka antara lain David Shimron, pengacara keluarga Netanyahu yang juga mewakili bekas agen ThyssenKrupp di Israel bernama Michael Ganor, dan Netanyahu sendiri juga dinyatakan sebagai tersangka.
Ganor, yang ditempatkan dalam tahanan dengan tuduhan suap, telah dinyatakan sebagai saksi untuk pihak jaksa dengan imbalan masa hukuman penjaranya diringankan.
Akan tetapi, Ganor belum lama ini membuat tindakan dramatis dengan membantah testimoni yang telah diberikannya kepada kepolisian.
Menurut laporan media Zionis Haaretz, Ganor sekarang membantah pernah melakukan suap. “Saya tidak menyuap siapa pun. Semua pembayaran yang saya lakukan kepada mereka yang terlibat dalam kasus ini adalah untuk jasa profesional yang mereka berikan kepada saya,” kata Ganor kepada koran Haaretz.
Seorang jubir ThyssenKrupp mengatakan kepada DW bahwa berita hari Selasa itu mengubah pendirian mereka, sebab tidak ada satu pun pegawai ThyssenKrupp disebut dalam pernyataan pihak kejaksaan. Perusahaan itu mengatakan bahwa pihaknya telah memutuskan hubungan dengan Ganor segera setelah tuduhan awal mencuat dua tahun silam, dan melakukan investigasi internal yang menunjukkan bahwa tidak ada bukti pegawainya terlibat korupsi.
Isu korupsi seputar pembelian kapal selam itu berawal dari liputan televisi Israel Channel 13, yang mengabarkan bahwa pada tahun 2007 Netanyahu membeli saham perusahaan asal Amerika Serikat Seadrift Coke, yang dikelola oleh sepupunya Nathan Milikowsky. Perusahaan itu kemudian diakuisisi oleh pabrikan baja GrafTech International, yang merupakan suplier ThyssenKrupp sejak lama. Netanyahu belum lama ini mengatakan bahwa dia sudah menjual sahamnya ke sepupunya pada tahun 2010, sekitar satu tahun setelah menjabat perdana menteri.
Menurut laporan kanal televisi Israel Channel 10, ketika dibuka tender untuk meningkatkan kemampuan persenjataan Angkatan Laut Israel pada 2014, Shimron –yang bertindak atas nama Netanyahu– menghubungi seorang penasihat Kementerian Pertahanan Israel dan meminta pejabat itu agar memberikan dukungannya untuk ThyssenKrupp. Kemudian pada tahun yang sama, Netanyahu dan Dewan Keamanan Nasional melobi untuk menangguhkan tender demi kepentingan ThessenKrupp. Shimron dan Netanyahu membantah tuduhan itu.
Menurut salah satu laporan Haaretz tahun 2017, pemerintah Jerman menangguhkan sejenak kesepakatn pembelian alat pertahanan itu karena munculnya dugaan korupsi, meskipun menteri luar negeri Jerman kala itu Sigmar Gabriel ingin menggesa kesepatan tersebut guna memperbaiki hubungannya yang kurang mulus dengan Netanyahu.*