Hidayatullah.com– Pemberontak Syiah Houthi telah mengumumkan pembebasan tanpa syarat 350 tahanan, termasuk tiga WN Arab Saudi, beberapa hari setelah kelompok itu mengklaim telah menangkap ribuan tentara Saudi pasca serangan ke dalam Arab Saudi, lapor TV Al Masirah milik Houthi.
Pernyataan oleh Komite Nasional untuk Tahanan (NCPA) Houthi yang disampaikan oleh TV Al Masirah mengatakan mereka yang dibebaskan ialah orang-orang yang ada dalam daftar yang dibuat sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan yang disepakati Stockholm pada Desember.
Pertukaran tahanan yang diperantarai Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), salah satu dari tiga komponen penting kesepakatan Stockholm, melibatkan 7.000 tahanan di kedua pihak telah terhenti dengan kedua pihak – pemberontak Houthi dan pemerintah Yaman – berusaha keras untuk menyepakati implementasinya.
“Inisiatif kami membuktikan kredibilitas kami dalam mengimplementasikan perjanjian Swedia dan kami meminta pihak lain untuk mengambil langkah yang sebanding,” kata Abdul Qader al-Murtada, kepala NCPA, dalam pernyataan yang disiarkan oleh stasiun televisi yang dikelola Houthi itu.
“Kami memutuskan untuk membebaskan 350 tahanan karena tidak ada kesepakatan dari Swedia yang tercapai. Pembebasan akan dilakukan hari ini,” bunyi pernyataan NCPA.
Secara terpisah, Komite Palang Merah Internasional (ICRC), yang memfasilitasi pembebasan itu, menyatakan jumlah mereka yang dibebaskan adalah 290 orang.
Mereka telah ditahan setelah serangan Houthi sejak 2014, ketika pemberontak menyerbu ibukota, Sanaa, dan sebagian besar wilayah utara.
Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Martin Griffiths – yang mengawasi perjanjian Stockholm – menyambut baik tawaran untuk secara sepihak melepaskan sejumlah tahanan, dengan mengatakan ia berharap hal itu akan mengarah pada kemajuan lebih lanjut pada kesepakatan pertukaran tahanan yang disepakati.
Kelompok Syiah yang memiliki hubungan dengan Iran mengatakan pembebasan tahanan adalah isyarat niat baik untuk koalisi Saudi-UEA, yang telah melakukan pemboman untuk mendukung pemerintah Abd-Rabbu Mansur Hadi yang diakui secara internasional sejak 2015.
Al-Murtada mengatakan dalam konferensi pers pada hari Senin bahwa kelompok itu termasuk tiga orang Saudi yang akan dikirim pulang di bawah pengawasan Komite Palang Merah Internasional (ICRC).
Dia mendesak PBB untuk menekan pemerintah untuk mengambil langkah serupa.
Franz Rauchenstein, kepala delegasi ICRC di Yaman menyatakan harapan dalam pernyataannya bahwa “operasi ini membuka pintu bagi pembebasan lebih lanjut untuk membawa kenyamanan bagi keluarga yang menunggu penyatuan kembali dengan orang yang mereka cintai”.
Mohammed Al Attab dari Al Jazeera, melaporkan dari Sanaa, mengatakan bahwa di antara para tahanan yang dibebaskan adalah 40 tawanan perang yang selamat dari serangan Saudi di sebuah pusat penahanan di Dhamar bulan ini.
Selama konferensi pers, Houthi juga mengutuk perekrutan anak-anak berusia 13-16 oleh pemerintah Saudi, kata Al Attab.
Menurut pernyataan NCPA, Houthi berencana untuk mengajukan keluhan kepada PBB atas perekrutan anak-anak dalam perang.
Baca: Pemberontak Syiah Houthi Rilis Video Serangan terhadap Saudi
‘Kemenangan Palsu’
Houthi baru-baru ini mengumumkan penangkapan ratusan pasukan loyalis Yaman dalam serangan di dekat perbatasan Saudi pada Agustus lalu, tetapi mereka tidak termasuk di antara mereka yang dibebaskan pada hari Senin.
Pada hari Ahad, pemberontak Houthi – Yaman menyiarkan rekaman yang mereka katakan merupakan serangan besar pada Agustus di dekat perbatasan dengan Arab Saudi, mengklaim bahwa tiga “brigade militer musuh telah jatuh”.
Orang-orang Houthi mengatakan serangan itu menewaskan atau melukai 500 tentara dan “ribuan” tentara ditangkap, termasuk perwira dan prajurit militer Saudi, bersama dengan ratusan kendaraan lapis baja.
“Lebih dari 200 tewas dalam puluhan serangan [rudal dan drone] ketika berusaha melarikan diri atau menyerah,” Yahya Saree, seorang juru bicara militer Houthi mengatakan.
Pada hari Senin, Menteri Informasi Yaman Muammar al-Iryani menuduh pemberontak Houthi mengklaim “kemenangan palsu” untuk menutupi dilema politik mereka.
“Milisi Houthi yang didukung Iran berusaha untuk menyebarkan kemenangan palsu melalui alat medianya ketika mereka mengalami kerugian besar dalam pasukan dan mesin setiap hari,” kata al-Iryani dalam pernyataan yang dikutip oleh kantor berita resmi Saba.
“Milisi Houthi sedang menyebarkan kemenangan-kemenangan ini dengan maksud untuk menutupi dilema politik dan militernya, untuk membangkitkan semangat terguncang para anggotanya dan melanjutkan perang proksi demi tuan-tuan mereka di Teheran,” katanya.
Rekaman itu menunjukkan barisan panjang pasukan yang ditangkap – mengenakan tali dan pakaian tradisional Yaman – yang tampaknya adalah orang-orang yang menyerah kepada pemberontak.
Keaslian video tidak dapat diverifikasi secara independen oleh Al Jazeera.
Koalisi negara-negara yang dipimpin Saudi, yang menerima senjata dan intelijen dari negara-negara Barat, melakukan intervensi di Yaman pada Maret 2015 setelah Houthi menggulingkan pemerintah Yaman dari kekuasaan pada 2014.
Houthi, yang menguasai sebagian besar wilayah kota besar, termasuk ibu kota Sanaa, mengatakan pada 20 September mereka akan menghentikan rudal dan serangan drone ke Arab Saudi jika koalisi menghentikan operasinya. Koalisi belum menanggapi proposal tersebut.
Kelompok itu juga mengklaim serangan terhadap pipa-pipa milik raksasa minyak Saudi Aramco awal bulan ini, tetapi Riyadh mengatakan serangan pesawat tak berawak itu disponsori oleh Iran.*/Nashirul Haq AR