Hidayatullah.com-Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 30 Januari menyatakan wabah coronavirus (virus corona) sebagai masalah kesehatan global. Sebelumnya, pemerintah China diyakini berusaha melindungi wabah itu, yang mengarah ke masalah serius di seluruh dunia.
Wabah yang diyakini telah menyebar dari Kota Wuhan sekarang menjadi masalah di seluruh dunia dengan lebih dari 37.000 kasus yang melibatkan 27 negara dan lebih dari 811 kematian.
Akibatnya, negara-negara di seluruh dunia mengambil tindakan, karena para ahli berharap virus corona tidak menjadi pandemi.
Namun, ada daerah berisiko tinggi untuk wabah virus corona yang telah diabaikan dan wilayah otonomi Xinjiang.
Pemerintah China telah mengkonfirmasi bahwa setidaknya 32 kasus infeksi virus corona terjadi di wilayah yang diduduki Uighur.
Namun, banyak yang percaya bahwa jumlah kasus infeksi jauh lebih besar daripada yang dilaporkan di kamp penahanan Uighur.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Amerika Serikat (AS) memperkirakan bahwa China telah menahan lebih dari tiga juta tahanan etnis Uighur bersama dengan Muslim lainnya.
Angka tersebut jauh di atas angka awal yang dirilis oleh PBB dan AS, yaitu sekitar satu juta tahanan.
Menurut laporan, masalah kemacetan, kekurangan gizi, pelecehan seksual dan berbagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) telah menjadikan kamp penahanan sebagai tempat memungkinkannya virus corona bisa cepat menyebar dan berkembang biak.
China, bagaimanapun, tampaknya tidak menyediakan sumber daya yang cukup untuk menyaring, mendiagnosis, dan mengobati calon korban, sebaliknya berfokus pada upaya di Wuhan saja.
Menurut pengamat hak asasi manusia (HAM), Uighur dan tahanan lainnya di kamp mengalami kesulitan mengakses layanan rumah sakit, karantina, nutrisi, dan kebersihan.
Kamp penahanan juga dilaporkan sangat padat, sehingga tidak mungkin untuk bergerak tanpa bergerak di antara mereka.
Akibatnya, para tahanan berisiko tinggi tertular penyakit ini sampai sekarang.
Tanpa tekanan, China tidak mungkin mengambil tindakan korektif untuk mencegah penyebaran virus corona di Turkistan Timur dalam waktu dekat.
Jika dunia tidak ingin melihat Xinjiang menjadi pandemi, tindakan segera harus diambil sebelum terlambat.
Oleh karena itu, tindakan dengan segera mengirim tim pemantauan ke wilayah tersebut diyakini telah mencegah keprihatinan dunia terealisasi.*