Hidayatullah.com—Dua puluh juta orang yang tinggal di Kano, kota terbesar kedua di Nigeria, harus menjalani lockdown selama sepekan.
Kemiskinan dan agama merupakan isu besar dalam situasi sekarang ini, di mana sebagian orang mengatakan mengikuti perintah tinggal di rumah berarti mati bukan karena coronavirus, tetapi mati karena kelaparan.
“Istri saya baru melahirkan kemarin dan hari ini saya terkurung di rumah dan tidak dapat pergi keluar untuk mencari makan untuk istri dan si bayi, sementara tidak ada harapan bantuan dari siapapun. Menurut saya, tidak ada yang lebih buruk dari ini,” kata Yakubu Abdu, pemulung yang berkeliling memungut besi tua di jalanan kota Kano. Pria paruh baya itu takut tidak dapat memberi makan delapan orang anggota keluarganya.
Perdagangan Nigeria dengan negara tetangga Niger dan Chad sangat penting artinya bagi Kano.
Pasar tekstil yang tersohor di kota itu, Kantin Kwari, dan pasar bahan makanan di daerah pinggiran Dawanau menarik penjual dan pembeli dari lintas perbatasan.
Sani Moussa, asal Maradi di Niger, mengunjungi Kano setiap pekan untuk belanja tekstil dan sepatu untuk dirinya sendiri serta banyak pedagang lain.
“Perintah tinggal di rumah tidak diragukan lagi akan sangat berpengaruh terhadap kami. Kami sangat mengandal barang dagangan dari Kano,”ujarnya kepada BBC Jumat (17/4/2020).
Pejabat-pejabat negara bagian Kano mengatakan bahwa lebih dari 400 juta naira (sekitar $1 juta) sudah dikumpulkan dan akan dibagikan kepada warga yang paling membutuhkan.
Namun, bagi sebagian orang langkah itu tidak cukup dan bahkan mereka mendesak agar orang terkaya di Afrika, Aliko Dangote, turun tangan dan ikut membantu.
Sementara itu salah satu tokoh Muslim paling disegani di Kano berkata kepada BBC, “Saya menentang penutupan masjid-masjid oleh pemerintah, sebab menurut saya itu tidak akan menyelesaikan masalah coronavirus.”*