Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Turki Kecam Perancis atas Komentar Tentang Libya

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 26 Juni 2020 10:08 10:08 am
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 26 Juni 2020 10:08
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Turki mengecam Perancis atas komentar terhadap dukungan Ankara untuk pemerintah yang diakui secara internasional di Libya. Turki mengatakan bahwa Paris bertujuan untuk mengembalikan kolonialisme usang di negara Afrika Utara.

Kecaman tersebut datang sehari setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron dengan geram melancarkan serangan verbal atas kebijakan Turki di Libya yang dilanda perang, menuduhnya bermain “permainan berbahaya” yang tidak dapat ditoleransi lagi.

Pada sebuah wawancara di hari Rabu (24/06/2020), Menteri Luar Negri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan: “Perancis sedang mencoba membagi Libya. Ia ingin kembali ke masa-masa kolonial lampau.” Dilaporkan oleh Aljazeera.

Negara kaya minyak ini terbelah antara administrasi saingan di Timur dan Barat, dengan konflik baru-baru ini yang meningkatkan keterlibatan asing.

‘Refleksi positif’

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Mengkritik dukungan Prancis untuk Haftar, Cavusoglu menuduh Paris sendiri memainkan “permainan berbahaya” di Libya, mengatakan perannya bertentangan dengan resolusi PBB dan posisinya sebagai anggota Dewan Keamanan yang tetap.

“Banyak negara telah mulai mengambil sisi bersama pemerintah yang sah yang diakui oleh PBB. Ini adalah cerminan positif dari kerja sama kami [dengan GNA],” katanya.

Libya telah tercerai berai akibat kekerasan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata kesukuan dan aktor asing sejak jatuh dan terbunuhnya mantan penguasa Muammar Gaddafi dalam pemberontakan yang didukung Barat.

Turki telah melakukan intervensi dengan tajam di Libya setelah meluncurkan operasi ‘badai perdamaian’ pada bulan Maret, memberikan dukungan udara, pelatihan dan senjata untuk membantu GNA mengusir serangan panjang sepanjang tahun oleh Haftar di ibukota, Tripoli.

GNA dalam beberapa pekan terakhir mendapatkan kembali kendali atas lokasi strategis, termasuk Tarhuna, kubu terakhir di Haftar di Libya Barat.

Pada hari Selasa, juru bicara Kementerian Luar Negeri Turki menuduh Macron “kehilangan alasan”.

“Karena dukungan yang diberikan kepada struktur yang tidak sah selama bertahun-tahun, Prancis memiliki tanggung jawab penting dalam menyeret Libya ke dalam kekacauan,” kata Hami Aksoy. “Orang-orang Libya tidak akan pernah melupakan kerusakan yang telah ditimbulkan akibat Perancis di negara ini.”

Keanggotaan UE Turki

Sementara itu, Perancis pada hari Rabu menuntut sebuah diskusi di dalam UE pada hubungannya dengan Turki, yang secara resmi tetap menjadi kandidat untuk bergabung dengan blok meskipun ada proses keanggotaan yang terhenti.

Dengan hubungan sebagai sesama aliansi NATO, hubungan Prancis dan Turki telah memburuk dalam beberapa hari terakhir karena kedua belah pihak saling melontarkan tuduhan atas konflik Libya.

Turki telah berusaha bergabung dengan Uni Eropa selama lebih dari setengah abad, walaupun tawarannya telah terganggu dalam beberapa tahun terakhir – terutama atas tindakan keras yang diikuti dengan kudeta yang gagal.

“Perancis memperhatikan bahwa pentingnya Uni Eropa dengan sangat cepat membuka diskusi yang komprehensif, tanpa tabu dan nafal, pada prospek hubungan masa depannya dengan Ankara,” Menteri Luar Negeri Jean-Yves Le Drian mengatakan kepada Senat Prancis.

“Uni Eropa harus dengan kuat mempertahankan kepentingannya sendiri karena memiliki sarana,” katanya. Kembali ke topik peran Turki di Libya, Le Drian mengatakan: “Klarifikasi dibutuhkan atas peran yang Turki berencana mainkan di Libya.”*

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:ErdoganMacronPerancisTurki. Libya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya PBB dan Liga Arab Serukan agar Zionis Membatalkan Rencana Aneksasi
Tulisan selanjutnya Menjadi Muslim Berarti Anda Tidak Aman dari China

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bendera Palestina dan Bendera Irlandia di Balai Kota Dublin
Berita

Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Berita
1 Juni 2026 11:20
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
Masjid Al Aqsha BSD Sembelih 198 Hewan Qurban, Distribusi hingga Aceh dan NTT

Terbaru

  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?