Hidayatullah.com—Kepala Badan Intelejen ‘Israel’ Mossad Yossi Cohen bertemu secara diam-diam dengan Wakil Kepala Dewan Kedaulatan Sudan Mohamed Hamdan Dagalo, The New Arab mengungkapkan pada hari Jumat (21/08/2020).
The New Arab mengatakan bahwa pejabat senior UEA juga menghadiri pertemuan yang diselenggarakan oleh Negara Teluk itu.
Pejabat UEA termasuk Penasihat Keamanan Nasional negara itu Tahnoun Bin Zayed, menunjukkan keinginan Sudan untuk mempromosikan hubungannya dengan ‘Israel’.
Letnan Jenderal Dagalo, yang juga dikenal sebagai Hemeti, tiba di UEA secara diam-diam dengan pesawat pribadi.
Dagalo membahas beberapa tindakan dengan pejabat ‘Israel’, termasuk normalisasi hubungan, memulai hubungan komersial, dan bekerja menuju pengumuman resmi normalisasi penuh.
Sumber tersebut mengatakan bahwa syarat Sudan untuk mencapai kesepakatan normalisasi adalah bahwa ‘Israel’ akan membantu untuk menghapus nama Sudan dari daftar AS sebagai negara yang “mensponsori terorisme”.
Menurut sumber tersebut, UEA memainkan peran besar dalam mempercepat antusiasme negara dan pejabat Arab lainnya untuk menciptakan hubungan terbuka dengan ‘Israel’.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Sudan pada Selasa (18/08/2020) malam membantah mengetahui pembicaraan kesepakatan dengan ‘Israel’, dan mengatakan juru bicara pemerintah yang mengumumkan perjanjian normalisasi yang akan datang tidak berwenang untuk mengomentari masalah tersebut.
Dalam pernyataan pers, Omar Qamar al-Din Ismail, pejabat di Kementerian Luar Negri, mengatakan pemerintah “terkejut” dengan klaim juru bicaranya bahwa Khartoum dan Yerusalem mendekati rekonsiliasi.
“Kementerian Luar Negeri terkejut melihat pernyataan Duta Besar Haider Badawi Sadiq, juru bicara kementerian, tentang upaya Sudan untuk menjalin hubungan dengan Israel. Pernyataan ini telah menciptakan situasi ambigu yang membutuhkan klarifikasi,” kata pernyataan itu, dikutip oleh Time of Israel.
“Soal hubungan dengan Israel sama sekali belum dibahas di Kementerian Luar Negeri. Tidak ada yang menugaskan Haidar Badawi Shadiq membuat pernyataan tentang hal ini,” tambah Ismail.
Sadiq mengatakan kepada Sky News Arabia sebelumnya pada hari Selasa (18/08/2020) bahwa Sudan “bercita-cita menuju perjanjian damai dengan Israel … hubungan yang setara dibangun di atas kepentingan Khartoum,” dalam sebuah pernyataan yang dipuji oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Di bawah perjanjian UEA-‘Israel’ yang ditandatangani Kamis (13/08/2020) lalu, ‘Israel’ mengatakan akan menangguhkan rencana pencaplokan bagian-bagian Tepi Barat yang diduduki, sebuah konsesi yang disambut oleh Eropa dan beberapa pemerintah Arab pro-Barat, tetapi dijauhi oleh Palestina.
Namun, Netanyahu telah mengatakan pada publik ‘Israel’ bahwa rencana pencaplokan hanya ditunda untuk sementara.
Kelompok-kelompok Palestina secara terbuka mengecam kesepakatan itu, mengatakan bahwa hal itu merupakan tikaman dari belakang dan tidak membantu apapun dalam kepentingan Palestina*