Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Partai Aung Suu Kyi Diperkirakan akan Menang di Myanmar

Rofi' Munawwar
Terakhir diupdate: 10 September 2020 15:28 3:28 pm
Rofi' Munawwar
Dipublikasikan 10 September 2020 15:28
Bagikan
Min Aung Hlaing dan Aung San Suu Kyi
Panglima Militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing bersama Aung San Suu Kyi
Bagikan

Hidayatullah.com—Ikon demokrasi Myanmar Aung San Suu Kyi berharap partainya, Liga untuk Demokrasi Nasional (NLD) akan menang telak dalam pemilihan yang akan diadakan November ini. Kampanye pemilihan dimulai Selasa lalu dan NLD berkuasa melalui pemilihan bebas pada 2015 sehingga memenangkan sekitar 80 persen kursi parlemen negara itu.

Suu Kyi dia tidak bisa menjadi Presiden dan Perdana Menteri Myanmar karena almarhum suami dan putranya adalah warga negara Inggris. Hal ini dinilai bertentangan dengan hukum negara meskipun memenangkan kursi parlemen di Myanmar.

Namun, perempuan tersebut secara de facto adalah pemimpin negara dan diangkat sebagai Konselor Nasional pada tahun 2016, posisi yang dikatakan hampir sama dengan Perdana Menteri. Sosoknya, yang pernah menerima Hadiah Nobel Perdamaian pada 1991, kini telah sorotan dunia, menyusul tuduhan genosida oleh kelompok etnis Muslim Rohingya.

Namun, Suu Kyi yang pernah menjadi Menteri Luar Negeri dan berjuang untuk menegakkan demokrasi dan menentang kekuasaan junta militer, masih tetap populer di kalangan masyarakat Myanmar. Menurut portal berita The Interpreter, pemilih di negara bagian Rakhine sebagian besar adalah Muslim yang mungkin tidak memilih karena masalah kewarganegaraan dan karena kampanye kekerasan terhadap mereka.

Ada lebih dari 800.000 etnis Rohingya yang dikatakan masih menjadi pengungsi di perbatasan Bangladesh dan memiliki harapan rendah bahwa mereka akan segera kembali ke Myanmar. Kampanye pemilu juga berlangsung saat negara tersebut dilanda pandemi virus corona yang mencatat 1.610 kasus dan delapan kematian baru-baru ini.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Itu juga digelar setelah dua tentara Myanmar membuat pengakuan lewat video dan pernyataan mereka juga diungkap oleh kelompok hak asasi manusia, Fortify Rights belum lama ini. Keduanya menyatakan bahwa mereka telah diperintahkan untuk menembak dan membunuh etnis Rohingya di negara bagian Rakhine pada 2017.

Pelaku telah dibawa ke Den Haag, Belanda untuk menghadiri persidangan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) sehubungan dengan kejahatan terhadap kemanusiaan yang diduga dilakukan di negara tersebut. Seorang pengacara Kanada, Profesor Payam Akhavan, yang mewakili kelompok etnis Rohingya di ICC, dilaporkan mengatakan kedua tentara itu muncul di pos perbatasan Bangladesh untuk meminta perlindungan pemerintah dan diduga mengakui insiden genosida dan pemerkosaan pada 2017.

Pada 2017, lebih dari 700.000 etnis Muslim Rohingya melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh. Etnis Rohingya adalah korban kampanye militer yang dipimpin Myanmar yang melakukan pembunuhan, pelecehan seksual, dan pengrusakan properti.

Namun, negara tersebut telah berulang kali membantah melakukan pembantaian dengan menyatakan bahwa operasi pada tahun 2017 hanya menargetkan militan Rohingya yang menyerang pos perbatasan polisi.

Gambia sebelumnya juga telah membawa kasus genosida etnis Rohingya di Myanmar ke ICC dan disidangkan di pengadilan tahun lalu atas nama Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang terdiri dari 57 negara. Namun, Suu Kyi, yang merupakan putri pemimpin nasionalis negara, Aung San, dikabarkan pernah menuntut agar kasus tersebut dibatalkan dan menepis tuduhan genosida.

Meski citranya tercoreng di lur negeri, Suu Kyi pernah mengatakan Selasa lalu di kantor partainya di ibu kota Naypyidaw bahwa: “Kami ingin kemenangan kami menjadi kemenangan nasional.” Menurut AFP, dia juga berterima kasih kepada pendukungnya karena mengibarkan bendera NLD di seluruh negeri.

Pada pemilu itu, partainya diharapkan bisa menang lagi seperti pemilu 2015. “Pemilu ini bukan lagi referendum pencapaian pemerintah NLD dalam lima tahun terakhir. Lebih pada dukungan publik kepada para pemimpin sipil negara dan kampanye mereka untuk memerangi virus corona,” kata konsultan keuangan independen, William Maung seperti dilansir portal berita Bangkok Post baru-baru ini.*

Redaktur: Rofi' Munawwar
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Aung San Suu KyimyanmarPemilu MyanmarRakhineRohinya
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya myanmar Polisi Myanmar Menahan Mahasiswa Demonstran Anti Pemerintah di Rakhine
Tulisan selanjutnya Peserta MTQ Sumut yang Mundur Gegara Tolak Lepas Cadar Mengaku Sempat Tertekan

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik

Berita
18 Juli 2026 10:26
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
INDEF: Bank Emas Berpotensi Besar Dorong Keuangan Syariah, Indonesia Masih Belum Tergarap
Indonesia Prioritaskan Promosi Produk Halal Lewat HEI 2026
Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?