Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Jerman Mendeportasi 26 Pencari Suaka Afghanistan ke Kabul Meskipun Ada ‘Ancaman Nyawa’

Insan Kamil
Terakhir diupdate: 15 Januari 2021 13:13 1:13 pm
Insan Kamil
Dipublikasikan 15 Januari 2021 13:13
Bagikan
bencana kemanusiaan
Bagikan

Hidayatullah.com–Jerman mendeportasi 26 pengungsi Afghanistan ke Kabul minggu ini, memicu protes dari kelompok hak asasi manusia. Kelompok tersebut memperingatkan bahwa para pencari suaka tersebut menghadapi risiko dalam hidup mereka dari pandemi virus corona dan kebangkitan kembali kekerasan di Afghanistan, lapor the The New Arab.

Dua puluh enam pencari suaka Afghanistan naik pesawat sewaan dari Dusseldorf ke Kabul pada Selasa malam, setelah Jerman mengakhiri moratorium deportasi yang diberlakukan karena ancaman virus corona.  Orang-orang itu tiba di ibu kota Afghanistan pada pukul 7 pagi waktu setempat pada penerbangan deportasi ke-35 dari Jerman ke Afghanistan sejak 2016, menurut kantor pers DPA.

Kementerian dalam negeri Jerman mengklaim 25 pria itu telah dihukum karena “pelanggaran”, namun tidak ada rincian lebih lanjut yang diungkapkan. Jerman telah mendeportasi total 963 pengungsi ke Kabul sejak Desember 2016, setelah klaim suaka mereka ditolak.

Kelompok hak asasi manusia mengkritik deportasi lanjutan Jerman terhadap pengungsi Afghanistan. Sementara Aktivis mengadakan demonstrasi di Bandara Dusseldorf pada Selasa malam untuk memprotes keputusan tersebut.

“Kami tidak percaya bahwa kondisi yang tepat untuk [pemulangan paksa ke Afghanistan] saat ini,” kata Dewan Pengungsi Denmark kepada InfoMigrants.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Baca: Pasukan Khusus Australia Lakukan Kejahatan Perang di Afghanistan

Saat-saat Berbahaya

Serangan di Afghanistan telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir, meskipun ada upaya untuk membuat kesepakatan damai antara pemerintah Kabul dan gerilyawan Taliban.

Setidaknya 23 warga sipil dan pasukan keamanan tewas di negara itu minggu ini, ketika negosiator Afghanistan di Qatar melanjutkan pembicaraan dengan Taliban yang bertujuan untuk mengakhiri konflik selama beberapa dekade.

Kekerasan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan keinginannya untuk melihat semua pasukan Amerika ditarik dari Afghanistan. Penarikan pasukan akan mengakhiri keterlibatan militer Washington selama dua dekade di negara itu.

Serangan telah dilakukan oleh faksi-faksi Taliban dan kelompok Daeh, menurut analis. Warga di Afghanistan timur mengatakan pada Oktober bahwa penarikan pasukan asing membuat mereka terkena serangan militan.

“Ketika Amerika berada di sini, ada pesawat tak berawak di udara 24 jam sehari dan tidak ada Taliban dan ISIS,” kata Kameen Khan, yang tinggal di dekat satu bekas pangkalan AS di distrik Achin di provinsi Nangarhar. “Dalam beberapa bulan sejak mereka meninggalkan daerah itu, Taliban dan ISIS telah memulai kembali aktivitas mereka,” tambahnya pada AFP.

Untuk sementara, provinsi tersebut diteror oleh para militan, yang membunuh penduduk setempat dan menghancurkan pusat kesehatan serta memaksa sekolah-sekolah untuk tutup hingga gelombang militer dari AS dan pasukan pemerintah.

Baca: Afghanistan: 70 Migran ‘Dipaksa Sungai’ oleh Penjaga Perbatasan Iran

Mengubah Sikap

Pada 31 Desember, Jerman mengakhiri pembekuannya atas deportasi warga Suriah yang dianggap menimbulkan “risiko keamanan”. Larangan deportasi warga Suriah telah diberlakukan sejak 2012 dan berulang kali diperpanjang karena perang dan bahaya yang ditimbulkan terhadap pengungsi yang kembali dari pasukan keamanan rezim.

Menanggapi berita tersebut, Jaringan Hak Asasi Manusia Suriah mengatakan pada suatu waktu: “[Pemerintah Jerman] gagal memperbarui bank… ini adalah hasil dari meningkatnya seruan untuk deportasi pengungsi yang dihukum karena kejahatan dan tindakan kekerasan,” kata lembaga itu. “Seruan ini pada gilirannya akan menimbulkan risiko mempromosikan ujaran kebencian terhadap pengungsi alih-alih berfokus pada pengembangan solusi untuk tantangan yang mereka hadapi dan mendukung upaya akuntabilitas dan keadilan yang akan menuntut mereka yang terlibat dalam kekerasan atau kejahatan,” tambahnya.

Sejumlah pengungsi diduga ditahan, disiksa, atau dibunuh oleh pasukan keamanan rezim sekembalinya mereka ke Suriah, meskipun ada jaminan keselamatan mereka oleh Damaskus, menurut aktivis dan kelompok hak asasi manusia.*

Redaktur: Insan Kamil
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya pcr ‘Israel’ akan Vaksinasi Tahanan Palestina Mulai Minggu Depan
Tulisan selanjutnya Pemuda Hidayatullah Kaimana Terima Speedboat Dakwah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Hakim Memutuskan Nama Donald Trump Dihapus dari Gedung Kesenian Kennedy Center

Berita
30 Mei 2026 13:05
Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?