Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Taliban Minta Amerika Bebaskan Aset Afghanistan yang Dibekukan

Nashirul Haq
Terakhir diupdate: 17 November 2021 21:11 9:11 pm
Nashirul Haq
Dipublikasikan 17 November 2021 21:15
Bagikan
Menteri Luar Negeri Afghanistan Amir Khan Muttaqi
Bagikan

Hidayatullah.com — Taliban telah meminta Kongres Amerika Serikat untuk membebaskan aset Afghanistan yang dibekukan setelah pengambilalihan pihaknya atas negara itu pada Agustus lalu, Al Jazeera melansir pada Rabu (17/11/2021).

Daftar isi
  • Taliban Bentuk Pengadilan Militer untuk Menegakkan Hukum Islam di Afghanistan
  • Pemimpin Tertinggi Taliban Haibatullah Akhundzada: “Semoga Allah Membantu Kita Tetap Kuat”
        • Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Dalam sebuah surat terbuka pada hari Rabu, Menteri Luar Negeri Taliban Amir Khan Muttaqi mengatakan tantangan terbesar yang dihadapi Afghanistan adalah ketidakamanan keuangan, “dan akar dari kekhawatiran ini mengarah kembali ke pembekuan aset rakyat kita oleh pemerintah Amerika”.

“Saya meminta … agar pintu untuk hubungan di masa depan dibuka, aset Bank Sentral Afghanistan dicairkan dan sanksi terhadap bank kami dicabut,” tulisnya, sambil memperingatkan gejolak ekonomi di dalam negeri dapat menyebabkan masalah di luar negeri, mendorong migrasi massal yang “akibatnya akan menciptakan masalah kemanusiaan dan ekonomi lebih lanjut”.

Washington telah menyita hampir $9,5 miliar aset milik bank sentral Afghanistan sejak Taliban mengambil alih kekuasaan. Pada bulan Oktober, Wakil Menteri Keuangan Amerika Serikat Wally Adeyemo mengatakan kepada komite Senat AS bahwa dia tidak melihat situasi di mana Taliban akan diizinkan untuk mengakses cadangan bank sentral Afghanistan.

Sementara itu, ekonomi Afghanistan yang bergantung pada bantuan secara efektif telah runtuh. Negara itu tidak mampu membayar pegawai negeri selama berbulan-bulan serta tidak mampu membayar impor.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Negara-negara yang peduli telah menjanjikan bantuan ratusan juta dolar, namun banyak yang enggan memberikan dana tersebut kecuali Taliban menjanjikan pemerintahan yang lebih inklusif dan menjamin hak perempuan serta minoritas.

“Saya menyampaikan pujian kami kepada Anda dan ingin berbagi beberapa pemikiran tentang hubungan bilateral kami,” tulis Muttaqi, mencatat bahwa 2021 adalah seratus tahun Washington mengakui kemerdekaan Afghanistan.

“Seperti negara-negara dunia lain, hubungan bilateral kita juga mengalami pasang surut,” tambahnya.

Taliban Bentuk Pengadilan Militer untuk Menegakkan Hukum Islam di Afghanistan

Hingga saat ini, Washington belum mengakui Taliban sebagai pemerintah yang sah di Afghanistan. Meskipun pekan lalu pemerintahan Presiden Joe Biden mengumumkan bahwa Qatar akan menjadi perwakilan diplomatiknya di negara tersebut.

‘Pahami kekhawatiran’
Dalam surat itu, Muttaqi berpendapat bahwa Afghanistan menikmati pemerintahan yang stabil untuk pertama kalinya dalam lebih dari 40 tahun. Periode yang dimulai dengan invasi oleh Uni Soviet pada 1979 dan berakhir dengan penarikan pasukan AS pada 31 Agustus.

Taliban sebelumnya memerintah Afghanistan dari tahun 1996 hingga 2001, memberlakukan kebijakan brutal yang melanggar hak asasi manusia. Kebijakan yang terutama berdampak kepada perempuan dan anak perempuan. Kembalinya mereka ke kekuasaan telah memicu kekhawatiran tentang hak asasi manusia.

Sejak mengambil alih kekuasaan, para pemimpin kelompok tersebut telah berusaha untuk meyakinkan masyarakat internasional bahwa mereka berniat untuk melakukan hal-hal yang berbeda kali ini. Meskipun keputusan mereka untuk tidak menunjuk menteri perempuan sejauh ini dan sebagian besar melarang anak perempuan kembali ke sekolah menengah, sedikit untuk mengurangi kekhawatiran.

“Langkah-langkah praktis telah diambil menuju pemerintahan yang baik, keamanan dan transparansi,” tulis Muttaqi.

“Tidak ada ancaman yang diarahkan ke kawasan atau dunia dari Afghanistan dan jalan dipersiapkan untuk kerja sama positif.”

Muttaqi mengatakan warga Afghanistan “memahami keprihatinan masyarakat internasional”, tetapi semua pihak perlu mengambil langkah positif untuk membangun kepercayaan.

Dia memperingatkan, AS berisiko lebih merusak reputasinya di negara itu “dan ini akan menjadi kenangan terburuk yang mendarah daging di Afghanistan di tangan Amerika”.

“Kami berharap para anggota Kongres Amerika akan berpikir matang dalam hal ini,” tutupnya.*

Pemimpin Tertinggi Taliban Haibatullah Akhundzada: “Semoga Allah Membantu Kita Tetap Kuat”

Redaktur: Nashirul Haq
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:AfghanistanAmerika SerikatImarah Islam AfghanistanTaliban
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya DPR Hakekok DPR Dorong Pemerintah Matangkan Persiapan Haji dan Umrah
Tulisan selanjutnya Pilot Melontarkan Diri, Jet Siluman F-35 Inggris Jatuh di Laut Mediterania

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Artikel

‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza

Artikel
3 Juni 2026 05:00
Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Influencer Singapura Didenda S$3.500 karena Mengiklankan Vape di Telegram

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?