Hidayatullah.com–Ratusan warga di berbagai Ethiopia dan Eritrea memprotes di berbagai kota di Amerika Serikat, menuntut agar pemerintah AS membatalkan dua rancangan undang-undang terpisah yang akan menjatuhkan sanksi keras kepada orang-orang yang menghalangi diakhirinya perang di Ethiopia.
Para demonstran mengatakan kebijakan itu akan merugikan rakyat Ethiopia dan menggagalkan negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung.
Salah satu RUU itu, Ethiopia Peace and Democracy Promotion Act, akan dibahas oleh US Senate’s Committee on Foreign Affairs pada hari Selasa (29/3/2022), lapor BBC.
RUU itu disponsori oleh senator Partai Demokrat Robert Mendendez, dari New Jersey, dan berusaha untuk menjatuhkan sanksi keras terhadap individu yang menghalangi berakhirnya konflik bersenjata yang telah berlangsung 16 bulan di Ethiopia.
Teks RUU tersebut meminta presiden untuk menangguhkan bantuan keamanan AS kepada pemerintah Ethiopia, dan menerapkan sanksi lain yang ditargetkan seperti pembatasan visa dan pembekuan aset semua pihak penyokong perang.
Tetapi penyelenggara protes mengatakan RUU itu, yang mendapat dukungan bipartisan, sama saja dengan mencampuri urusan dalam negeri Ethiopia dan akan merugikan perekonomian negara itu.
AS telah menangguhkan Ethiopia dari African Growth and Opportunity Act (Agoa), yang memberikan fasilitas bebas bebas tarif kepada negara Afrika itu, karena konflik yang sedang berlangsung yang telah menewaskan puluhan ribu dan jutaan orang mengungsi.
Pembicaraan yang dipimpin Uni Afrika untuk mengakhiri konflik belum menunjukkan hasil, karena pertempuran masih berlanjut di berbagai wilayah di Ethiopia.*