Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Para Pakar Bicara Soal Infeksi Covid-19 di Australia yang Lebih Tinggi dari Laporan Resmi

Ama Farah
Terakhir diupdate: 31 Maret 2022 17:19 5:19 pm
Ama Farah
Dipublikasikan 31 Maret 2022 17:19
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Jumlah kasus Covid-19 di Australia kemungkinan jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan resmi saat ini. Para ahli epidemiologi menyerukan pengambilan sampel secara acak untuk menemukan tingkat penularan coronavirus sebenarnya di masyarakat.

Pada puncak gelombang Omicron pertama awal tahun ini, ada perkiraan bahwa kasus infeksi 10 kali lebih tinggi dari yang dilaporkan secara resmi karena waktu tunggu hasil tes PCR yang lama dan kurangnya pasokan alat tes cepat antigen secara nasional.

Antara 1 dan 30 Maret, jumlah kasus Covid-19 harian di Australia meningkat lebih dari dua kali lipat dari 25.017 menjadi 61.331. New South Wales mencatat jumlah tertinggi pada hari Rabu (30/3/2022) dengan 25.235 kasus, sementara di Victoria ada 11.749 dan 10.626 di Queensland.

“Jelas ada jauh lebih banyak kasus daripada yang dilaporkan secara resmi. Ini terutama karena sekitar 30% orang yang terinfeksi Omicron tidak memiliki gejala dan, oleh karena itu, tidak mungkin untuk dites,” kata Adrian Esterman, seorang profesor biostatistik di University of South Australia, seperti dilansir The Guardian Rabu (30/3/2022).

“Pemerintah negara bagian mengamanatkan bahwa setiap tes cepat positif harus dilaporkan. Namun, jika orang hanya membeli alat [tes cepat] dari apotek dan hasilnya positif, bagaimana pemerintah tahu bahwa mereka telah melaporkannya? Mereka [pemerintah] tidak akan tahu, itu jawabannya.”

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

kata Esterman menambahkan QR code ke alat tes cepat, seperti yang dilakukan di Inggris, akan memudahkan orang untuk melaporkan hasil tes mereka.

“Inggris punya solusi yang sangat sederhana. Setiap tes cepat antigen memiliki kode QR, dan ketika Anda selesai melakukannya, Anda memindainya, dan Anda akan ditanya apakah tes Anda positif, negatif atau batal. Hanya butuh dua detik, jadi sayang sekali kita tidak melakukan hal yang sama di sini.”

Dr Michael Lydeamore, seorang pemodel penyakit menular Monash University, mengatakan kelemahan yang paling dikenal dari tes cepat antigen (RAT) adalah bahwa tes itu kurang efektif dalam mendeteksi hasil positif dibandingkan tes PCR. 

Kedua pakar tersebut meminta pemerintah di seluruh Australia untuk melakukan pengujian Covid secara acak, seperti yang dilakukan di Inggris.

“Apa yang akan diberitahukan oleh survei itu kepada kita adalah berapa banyak orang yang telah terpapar Covid, dan saya pikir itu memberikan landasan yang sangat baik untuk mengukur hal-hal lain,” kata Lydeamore.

The Kirby Institute di University of NSW and the National Centre for Immunisation Research and Surveillance telah meluncurkan survei prevalensi Covid untuk menentukan berapa banyak orang yang tertular varian Omicron. Dikenal sebagai serosurvei, para peneliti memeriksa hasil tes antibodi yang diambil enam minggu setelah puncak gelombang Omicron pada Januari.

Prof John Kaldor, ahli epidemiologi Kirby Institute yang merupakan bagian dari tim penelitian itu, mengatakan selalu ada keraguan tentang jumlah kasus Covid-19 sebenarnya di seluruh Australia.

Sementara survei yang dilakukan selama tahun pertama pandemi pada tahun 2020 mendapati kurang dari 1% populasi Australia terpapar Covid, Kaldor memperkirakan tingkat paparan akan jauh lebih tinggi saat ini.

Lonjakan kasus Covid sekarang ini sebagian didorong oleh penularan di sekolah-sekolah.

Correna Haythorpe, presiden Australian Education Union, mengatakan ada kekurangan dalam transparansi tentang penularan Covid di kalangan guru dan siswa.

“Sangat sulit untuk memahami sejauh mana masalah tanpa ada data yang tersedia,” kata Haythorpe.

Esterman mengatakan penghapusan langkah pencegahan penularan coronavirus di masyarakat (seperti mengenakan masker dan jaga jarak) berarti jumlah kasus akan tetap konstan, meskipun sebagian besar negara bagian memperkirakan akan mencapai puncak penularan varian BA.2 pada pertengahan April.

“Jaga jarak sebisa mungkin, bertemulah di tempat yang berventilasi baik, gunakan masker apabila Anda tidak mungkin menjaga jarak. Meskipun sudah tidak ada hukum yang mengatur, bukan berarti Anda tidak bisa melakukan upaya-upaya pencegahan itu,” kata Lydeamore mengimbau masyarakat.*

Redaktur: Ama Farah
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Australiacoronaviruscovid-19infeksijaga jarakmasker
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Singapura Gantung Pria 68 Tahun Terpidana Mati Kasus Narkoba
Tulisan selanjutnya sibongile-mani Pesta Belanja dengan $1 Juta Uang Transferan Nyasar, Mahasiswi Afsel Dibui

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

ASN Jabar Bisa Dipecat Jika Terbukti Jadi Bagian Kelompok LGBT, Wagub Erwan Tegaskan Sanksi Terberat

Berita
13 Juli 2026 06:04
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital
Sering Menyakiti Kakek 95 Tahun yang Dirawatnya, ART Indonesia Dihukum Bui 18 Bulan di Singapura
Relawan Bantuan di Gaza Syahid Dibom ‘Israel’ usai Gelar Nobar Piala Dunia

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?