Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Internasional

Laporan:  Intimidasi dan Perundungan terhadap Muslim Merajalela di Amerika Serikat

Ahmad
Terakhir diupdate: 18 April 2022 21:14 9:14 pm
Ahmad
Dipublikasikan 18 April 2022 20:50
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com—Council on American-Muslim Relations (CAIR) mengakui sikap dan pandangan terkait kebencian terhadap Muslim atau Islamophobia masih ada dan menjadi kelaziman di sekolah-sekolah umum di Amerika Serikat (AS). Menurut laporan CAIR terbaru, dalam wawancara dengan 700 siswa Muslim di sekolah-sekolah di negara bagian California menemukan masalah intimidasi, pelecehan dan diskriminasi oleh teman sebaya dan orang dewasa, termasuk guru, atas dasar keyakinan agama mereka.

“Siswa Muslim dari segala usia dikucilkan dan dianiaya karena keyakinan agama mereka dan kesalahpahaman yang menghubungkan mereka dengan serangan 9/11 dan tindakan kekerasan lainnya,” kata Pengacara Hak Sipil California CAIR Amr Shabaik, yang melakukan penelitian tersebut.  “Seringkali, insiden seperti itu terlihat pada siswa yang diintimidasi oleh siswa lain, kurangnya tindakan pencegahan dan laporan oleh pejabat sekolah dan pelatihan bagi guru tentang cara menengahi serta menangani insiden perundungan agama dan ras,” katanya kepada Anadolu Agency.

Menurut laporan itu, hampir setengah dari siswa atau 47,1 persen pernah diintimidasi karena mereka Muslim. Jumlah itu lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional yang dilaporkan sebesar 20 persen.

“Saya terus-menerus dipanggil Osama bin Laden oleh orang yang sama yang akan memberi tahu saya bahwa saya tampak seperti bom, dengan penekanan besar pada kata bom,” kata seorang mahasiswi berusia 18 tahun dari Brentwood yang diwawancarai dalam survei tersebut, merujuk pada biang keladi di balik serangan teroris 11 September 2001.

Lebih dari separuh responden atau 55,73 persen, merasa tidak aman, tidak dapat diterima atau tidak nyaman di sekolah karena identitas Muslim mereka. Itu adalah tingkat tertinggi yang dilaporkan sejak CAIR-California mulai melakukan studi mereka pada tahun 2013.

Baca Juga

Saudi Tak Akan Jalin Diplomatik dengan Penjajah, tanpa Negara Palestina
Masjidil Haram Dinodai Ponsel dan Kamera
Vatikan Selidiki Kabar Pesta Seks di Katedral Inggris
Muslim Yunani Khawatir Pihak Berwenang akan Hapus Jejak Utsmaniyyah di Trakia
Hujan Tidak Turun karena Wanita Iran Tidak Berhijab

Laporan tersebut juga menemukan sepertiga siswa atau 30,12 persen, yang mengenakan jilbab melaporkan jilbab mereka telah ditarik atau dipegang dengan cara yang ofensif.  “Banyak yang melontarkan kata-kata kasar karena saya muslim,” kata siswa tersebut.

“Mereka mengejek saya dan mengutuk Islam. Bahkan jilbab saya pernah ditarik oleh teman sekelas tanpa alasan,” kata wanita itu.

Selain itu, laporan tersebut menemukan bahwa hampir sepertiga siswa mengalami atau menyaksikan cyberbullying. Salah satu temuan yang lebih meresahkan dari penelitian ini adalah bahwa hampir seperempat responden atau 23,5 persen, melaporkan bahwa seorang guru, administrator atau orang dewasa lainnya di sekolah mereka mengucapkan kata-kata kasar tentang Islam atau Muslim.

Associate Director di Institut Boniuk untuk Toleransi Beragama di Rice University, Profesor Zahra Jamal, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa tindakan intimidasi dan rasisme memiliki berbagai efek termasuk efek emosional, fisik, dan bahkan sosial. “Beberapa anak muda Muslim mengalami kecemasan, depresi, sulit tidur dan rasa percaya diri yang rendah, sementara ada juga perasaan mereka harus memilih antara menjadi orang Amerika atau Muslim di sekolah.”

“Sayangnya, 55 persen merasa tidak aman di sekolah karena keyakinan agama mereka, 32 persen menyembunyikan identitas Muslim mereka, sementara 20 persen bolos sekolah karena merasa tidak aman dan tidak diterima di sekolah,” katanya.

Untuk mengatasi tren Islamofobia di sekolah, Profesor Zahra menekankan bahwa budaya memperlakukan Muslim sebagai teroris harus segera diubah.

“Akan luar biasa jika pemerintah, perusahaan, filantropis, organisasi akar rumput, dan kelompok sipil dapat secara kolektif bekerja menuju investasi besar-besaran dalam pendidikan anak usia dini yang berkualitas dan program pengembangan holistik yang berpusat pada pendidikan pluralisme, penalaran moral, dan etika kosmopolitan yang menghormati identitas individu dan kerjasama kolektif,” ujarnya. “Jika dibutuhkan sebuah desa untuk membesarkan seorang anak, maka dibutuhkan sebuah desa global untuk menyelamatkan semua anak kita … dan generasi masa depan mereka,” tambah dia.*

Hidayatullah.com—Council on American-Muslim Relations (CAIR) mengakui sikap dan pandangan terkait kebencian terhadap Muslim atau Islamophobia masih ada dan menjadi kelaziman di sekolah-sekolah umum di Amerika Serikat (AS). Menurut laporan CAIR terbaru, dalam wawancara dengan 700 siswa Muslim di sekolah-sekolah di negara bagian California menemukan masalah intimidasi, pelecehan dan diskriminasi oleh teman sebaya dan orang dewasa, termasuk guru, atas dasar keyakinan agama mereka.

“Siswa Muslim dari segala usia dikucilkan dan dianiaya karena keyakinan agama mereka dan kesalahpahaman yang menghubungkan mereka dengan serangan 9/11 dan tindakan kekerasan lainnya,” kata Pengacara Hak Sipil California CAIR Amr Shabaik, yang melakukan penelitian tersebut.  “Seringkali, insiden seperti itu terlihat pada siswa yang diintimidasi oleh siswa lain, kurangnya tindakan pencegahan dan laporan oleh pejabat sekolah dan pelatihan bagi guru tentang cara menengahi serta menangani insiden perundungan agama dan ras,” katanya kepada Anadolu Agency.

Menurut laporan itu, hampir setengah dari siswa atau 47,1 persen pernah diintimidasi karena mereka Muslim. Jumlah itu lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional yang dilaporkan sebesar 20 persen.

“Saya terus-menerus dipanggil Osama bin Laden oleh orang yang sama yang akan memberi tahu saya bahwa saya tampak seperti bom, dengan penekanan besar pada kata bom,” kata seorang mahasiswi berusia 18 tahun dari Brentwood yang diwawancarai dalam survei tersebut, merujuk pada biang keladi di balik serangan teroris 11 September 2001.

Lebih dari separuh responden atau 55,73 persen, merasa tidak aman, tidak dapat diterima atau tidak nyaman di sekolah karena identitas Muslim mereka. Itu adalah tingkat tertinggi yang dilaporkan sejak CAIR-California mulai melakukan studi mereka pada tahun 2013.

Laporan tersebut juga menemukan sepertiga siswa atau 30,12 persen, yang mengenakan jilbab melaporkan jilbab mereka telah ditarik atau dipegang dengan cara yang ofensif.  “Banyak yang melontarkan kata-kata kasar karena saya muslim,” kata siswa tersebut.

“Mereka mengejek saya dan mengutuk Islam. Bahkan jilbab saya pernah ditarik oleh teman sekelas tanpa alasan,” kata wanita itu.

Selain itu, laporan tersebut menemukan bahwa hampir sepertiga siswa mengalami atau menyaksikan cyberbullying. Salah satu temuan yang lebih meresahkan dari penelitian ini adalah bahwa hampir seperempat responden atau 23,5 persen, melaporkan bahwa seorang guru, administrator atau orang dewasa lainnya di sekolah mereka mengucapkan kata-kata kasar tentang Islam atau Muslim.

Associate Director di Institut Boniuk untuk Toleransi Beragama di Rice University, Profesor Zahra Jamal, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa tindakan intimidasi dan rasisme memiliki berbagai efek termasuk efek emosional, fisik, dan bahkan sosial. “Beberapa anak muda Muslim mengalami kecemasan, depresi, sulit tidur dan rasa percaya diri yang rendah, sementara ada juga perasaan mereka harus memilih antara menjadi orang Amerika atau Muslim di sekolah.”

“Sayangnya, 55 persen merasa tidak aman di sekolah karena keyakinan agama mereka, 32 persen menyembunyikan identitas Muslim mereka, sementara 20 persen bolos sekolah karena merasa tidak aman dan tidak diterima di sekolah,” katanya.

Untuk mengatasi tren Islamofobia di sekolah, Profesor Zahra menekankan bahwa budaya memperlakukan Muslim sebagai teroris harus segera diubah.

“Akan luar biasa jika pemerintah, perusahaan, filantropis, organisasi akar rumput, dan kelompok sipil dapat secara kolektif bekerja menuju investasi besar-besaran dalam pendidikan anak usia dini yang berkualitas dan program pengembangan holistik yang berpusat pada pendidikan pluralisme, penalaran moral, dan etika kosmopolitan yang menghormati identitas individu dan kerjasama kolektif,” ujarnya. “Jika dibutuhkan sebuah desa untuk membesarkan seorang anak, maka dibutuhkan sebuah desa global untuk menyelamatkan semua anak kita … dan generasi masa depan mereka,” tambah dia.*

Redaktur: Ahmad
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:islamofobiaislamofobia di ASjilbabMuslim Amerika
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya kepribadian muslim 8 Pelajaran Madrasah Ramadhan
Tulisan selanjutnya Pemerintah akan Adakan Sidang Isbat Awal Syawal 1443 H 1 Mei

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Global Sumud FLotilla
Berita

Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Berita
30 Mei 2026 09:51
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha
Israel, Russia Dimasukkan Daftar Hitam Kekerasan Seksual PBB

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

Internasional

Potret Pasukan Khusus Wanita Arab Saudi yang Akan Jaga Keamanan Umrah dan Haji

13 Januari 2023 15:00
Internasional

Mayoritas Muslim, Kota di AS Ini Perbolehkan Penyembelihan Hewan untuk Qurban

13 Januari 2023 07:00
Bendera LGBT AS
Internasional

Politisi Republikan AS Ajukan UU yang Melarang Pengibaran Bendera LGBT dan BLM

13 Januari 2023 05:01
Internasional

Muslimah India Berprestasi Ini Harus Pindah Sekolah Demi untuk Tetap Berhijab

12 Januari 2023 19:30
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?